Cari Blog Ini

Kamis, 05 Mei 2011

Kajian Kitab Kimia Sa’adah karya al-Ghazali

(Kajian Kitab Kimia Sa’adah karya al-Ghazali)


Oleh: Ali Mursyid



Kebahagiaan adalah hal yang dicari bahkan di buru banyak orang. Banyak cara, kiat-kiat, teknik-teknik bagaimana menggapai kebahagiaan dalam hidup. Motivasi untuk mencapai kebagaiaan, sesungguhnya motivasi hidup manusia yang tertinggi. Bahkan dikatakan bahwa Islam hadir bertujuan untuk menciptakan “sa’adatun nas fi al-darain” (kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat)

Selain sebagai motivasi mayoritas umat manusia, kebahagiaan juga banyak didefinisikan dengan cara berbeda-beda. Ada yang mendefinisikan kebahagiaan dalam lingkup cara pandang materlisme, ada yang dengan mendefinisikannya dengan pendekatan idealisme, dan ada pula yang mendefinisikannya dengan pendekatan psikologi, dan bahkan keruhanian.

Kebahagiaan juga banyak diajarkan ajaran-ajaran luhur. Ini sebenarnya sudah dipraktikkan sejak ribuan tahun lalu, mulai dari kebebasan Stoic, Kimia Kebahagiaan (Kimia Sa’adah) Al-Ghazali, Pencerahan ala Budha bahkan kepuasan ajaran kuno Epicularean. Namun gelombang modernitas perlahan-lahan menggerusnya. Akibatnya, kini prinsip-prinsip adiluhur tersebut bagaikan harta-karun yang terlupakan.

Karena itu, dalam tulisan ini, akan dipaparkan tentang salah satu konsep kebahagiaan, yang bersumber dari ajaran luhur para pendahulu, yaitu konsep Kebahagiaan menurut Imam al-Ghazali dalam kitabnya “Kimia Sa’adah” (Kimia Kebahagiaan).

Pilihan kata “Kimia: sendiri, menurut pengkaji pemikiran al-Ghazali di Mesir, Sulaiman Dunia, ini dengan maksud untuk menunjukkan bahwa kebahagiaan bisa dicapai dengan perubahan kimiawi di dalam diri seorang manusia, dan bukan perubahan fisikawi. Perubahan kimiawi yang dimaksud al-Ghazali adalah perubahan yang tidak bersifat fisik, bukan perubahan dalam arti perubahan jasad wadag, akan tetapi perubahan yang bersifat non fisik, non materi, perubahan jiwa, batin, pikiran dan perasaan, yang dapat menghantarkan sesorang dapat menggapai kebahagiaan sejati. Jadi maksud dari “Kimia Kebahagiaan” adalah sebuah konsep untuk yang menghantarkan transformasi ruhani seseorang agar dapat menggapai kebahagian hakiki.

Untuk menghantarkan pada tujuan tersebut al-Ghazali membagi bukunya dalam beberapa bagian berikut; Penduhuluan; Bagian pertama berisi tema pengantar yang mengantarkan ke pembahasan pokok; Bagian kedua berisi penjelasan mengenai bagaimana mengatahui diri atau jiwa kita; Bagian ketiga adalah penjelasan mengenai hati dengan berbagai ‘bala tentara’ pendukungnya; Bagian keempat tentang keajaiban-keajaiban hati.

Pada bagian pendahuluan, al-Ghazali membuka kitab Kimia Sa’adah (kimia kebahagiaan) ini dengan basmalah, hamdalah, shalawat dan salam. Ini disampaikan dengan bahasa yang indah, dengan diksi yang terpilih dan irama kata yang menggugah. Sayangnya pada bagian pendahuluan ini tidak dijelaskan apa motif al-Ghazali menuliskan buku ini, karena al-Ghazali menganggap penting untuk menuliskan ini atau karena ada permintaan dari penguasa atau pihak-pihak lainnya? Ini tidak ada penjelasannya. Sehingga tidak bisa diketahui dengan pasti latar belakang dituliskannya buku al-Ghazali yang cukup singkat ini.

Pun demikian, bila dilihat dari sejarah hidup beliau, maka buku Kimia Sa’adah ini ditulis setelah al-Ghazali menulis buku al-Munqidh min al-Dhalal. Kalau buku al-Munqidh min al-Dhalal berisi pencarian dan kritik al-Ghazali mengenai epistemologi kebenaran, dan berkesimpulan bahwa epistemologi sufilah yang dipilih, maka dalam buku Kimia Sa’adah al-Ghazali, melanjutkan hasil pilihannya ke sufi tersebut, dengan menawarkan konsep kebahagiaan menurut sufi. Jadi, Kimia Sa’adah adalah penegasan akan kebenaran epistem sufistik yang dipilih al-Ghazali. Dengan buku ini, al-Ghazali hendak menyatakan bahwa jalan sufi bukan hanya benar, tetapi dapat menghantarkan pada kebahagiaan sejati.

Pada bagian pengantar, al-Ghazali menjelaskan bahwa pembicaraan mengenai Kimia Kebahagiaan adalah pembicaraan yang sangat berharga, dan bukan pembicaraan rendahan. Racikan kebahagiaan ini juga, menurutnya, adalah racikan yang hanya disandarkan pada ajaran Nabi Muhammad saw. Karena menurutnya, jalan menuju kebahagiaan dapat ditempuh dengan benar bila merujuk pada ajaran Muhammad yang dihayati dengan benar. Di antara yang diajarkan Muahammad adalah bahwa kebahagiaan atau keberuntungan bukan hanya berarti keburuntungan material, tetapi yang lebih penting adalah keberuntungan spiritual.

Pada bagian selanjutnya, bagian ketiga, al-Ghazali mulai menjelaskan bagaimana seseorang dapat meraih kebahagiaan melalui jalan spiritual. Mula-mula dijelaskan apa itu bahagiah dengan berbagai ragamnya. Dikatakan dalam buku ini:

“Kebahagiaan itu berbeda-beda bagi setiap makhluk hidup. Ada yang bahagia bila terpenuhi urusan makan, minum dan segala kebutuhan biologisnya, maka ini adalah kebahagiaan kelompok binatang ternak (baha’im). Ada yang merasa bahagia bila berhasil melakukan penyerangan, bisa mengalahkan dan bahkan membunuh lawan, ini adalah kebahagiaan bagi kelompok binatang liar (siba’). Ada yang merasa bahagia dengan melakukan tipu daya dan muslihat, ini adalah kebahagiaan bagi syaitan. Sementara kebahagiaan bagi para malaikat adalah kebahagiaan bisa taat kepada Tuhan sepenuhnya, tanpa bisa membangkang, tidak memiliki syahwat dan tidak pernah marah.” (hlm. 4)

Setelah menjelaskan model dan ragam kebahagiaan di atas, al-Ghazali memberi pilihan kebebasan bagi kita. Silahkan apakah kita mau memilih kebahagiaan yang model mana? Jika kita hanya sibuk mencari materi untuk sekedar memenuhi kebutuhan makan, minum dan bahagia hidup berumah tangga, maka apa beda kita dengan binatang ternak? Bila kita hanya sibuk dan senang berbuat anarkhis maka mungkin kita ini tidak ada bedanya dengan binatang buas. Jika kita senang dan bahagia dengan melakukan penipuan, sering berbuat curang untuk keuntungan pribadi, maka mungkin kita tidak berbeda dengan syaitan. Dan jika kita ini merasa berbagaia dengan berbuat baik, senang melakukan ketaatan kepada Allah, menjalankan sunnah Nabi, berbuat baik kepada sesama, maka mungkin yang menguasai diri kita adalah unsur kebahagiaan malaikat.

Manusia sendiri, menurut penulis buku ini, sesungguhnya terdiri dari berbagai unsur di atas, unsur binatang ternak, binatang buas, syaitan dan malaikat. Unsur mana yang paling dominan dalam diri setiap orang, akan mempengaruhi bagaimana ia menggapai kebahagiaan. Dalam hal ini, al-Ghazali menyebutkan bahwa tempat kebagiaan tertinggi bagi orang pada umumnya (awam) adalah kebahagiaan surga, sementara kebahagiaan tertinggi bagi orang-orang spesial (khawash) adalah menggapai ridha Allah swt.

Selanjutnya, dijelaskan pula bahwa untuk menggapai kebagiaan tertinggi, manusia harus terlebih dahulu mengenal dirinya, mengenal jiwanya. Dalam hal ini al-Ghazali menjelaskan bahwa jiwa (nafs) manusia, terbagi menjadi dua hal, yaitu hati (qalb) dan ruh. Hati (qalb) di sini bukan berarti qalb dalam arti fisik yang terdapat dalam dada tiap manusia, tetapi qalb dalam arti ruhani dan bathini. Qalb semacam inilah yang merupakan bagian dari nafs yang dibebani taklif untuk ta’at kepada Allah swt, yang akan menerima pahala dan dosa, yang dapat merasakan bahagia dan sengsara. Qalb lah yang dapat ma’rifat kepada Allah swt.

Terkait dengan qalb ini, dijelaskan bahwa Allah swt mencipatakan dua alam yang berbeda, ‘alam khalqi dan ‘alam amri. Ini sesuai firman Allah swt: alâ lahû al-khalqu wa al-amru. Manusia sejatinya terdiri dari alam khalqi dan alam amri sekaligus. Alam khalqi adalah ciptaan Allah swt yang mengenal dimensi panjang, lebar dan terukur serta bisa dihitung. Sedangkan alam amri sebaliknya, yaitu ciptaan Allah yang tidak mengenal dimensi panjang, lebar, tidak terukur dan tidak bisa dihitung. Qalb insan adalah tergolong alam amri dan bukan alam khalqi, karena qalb yang dimaksud bukanlah hati dalam arti fisik.

Sementara itu ruh, adalah sebagian besar tetap menjadi rahasia Allah, yang juga terdapat dalam ‘alam amri. Sebagaimana dikatakan dalam firman Allah swt: “wa yas’alûnaka ‘an al-rûhi qul al-rûhu min amri rabbi, wamâ utîtum min al-‘ilmi illâ qalîla”, ayat ini diterjemahkan al-Ghazali dengan: “orang-orang bertanya kepadamu Muhammad, tentang persoalan ruh. Katakanlah bahwa ruh itu merupakan ciptaan Allah yang tergolong ‘alam amri. Kamu sekalian tidak diberi pengetahuan mengenai hal ini kecuali sangat sedikit” Agama atau syariat Islam, tidak memerintahkan, menganjurkan dan tidak berkepentingan untuk mengetahui ruh ini. Karena kewajiban agama adalah bukannya mengetahui ruh, yang memang urusan Tuhan, tetapi kewajiban agama adalah beribadah, bermujahadah kepada Allah dan mengetahui tanda-tanda hidayah Allah. Sebagimana dikatakan dalam firman Allah; “Wa al-ladzîna jâhadû fînâ lanahdiyannâ subulanâ”. Dalam hal ini al-Gazali menyatakan bahwa barang siapa tidak bersungguh-sungguh dalam beribadah dan menggapai hidayah Allah maka tidak akan dapat mengetahui hakikat ruh (hlm. 11).

Penjelasan selanjutnya, bagian keempat, mengenai qalb dan para ‘bala tentara’-nya, atau dengan istilah lain, hati dan para anggota pelaksananya. Sebagaimana konsep sufi pada umumnya, al-Ghazali menyatakan bahwa jiwa (nafs) manusia itu bagaikan sebuah kota. Hati adalah rajanya, syahwat adalah wali kotanya, akal adalah panglimanya, kekuatan marah adalah para polisinya yang memiliki dendam kesumat. Hati sebagai raja menasihati sehingga kerajaan kotanya dapat tenang. Menasihati ini harus terus dilakukan oleh hati, karena wali kota-nya adalah syahwat, dan kekuatan marah menjadi polisi kota-nya, jika hati berhenti menasihati maka hancurlah kota tersebut, hancurlah jiwa manusia. Hati sebagai raja juga harus berembug dengan panglima (akal) dan menjadikan wali kota (syahwat) dan polisi (amarah) mesti terkenadli oleh panglima (akal). Jika ini yang terjadi maka kota (jiwa manusia) akan tenang dan bahagia.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa kebahagiaan sejati dapat diraih dengan memperhatikan tiga hal dalam diri kita, yaitu: kekuatan amarah, kekuatan syahwat dan kekuatan ilmu. Untuk mencapai kebahagiaan, orang harus mengurangi dan memenaj sedemikian rupa, kekuatan amarah dan kekuatan syahwatnya. Jika tidak maka, baik amarah maupun syahwat sesungguhnya cenderung merusak diri sendiri. Dengan memanej amarah, sesorang bisa bersikap sabar, tenang dan bahagia. Dan dengan menjaga syahwat seseorang dapat menjaga kehormatan dan muru’ahnya. Meski manusia, sebagai binatang, dibekali dengan sifat amarah dan sifat syahwat, tetapi manusia diberi kelebihan lain yang tidak dikaruniakan pada binatang. Yaitu ilmu yang puncaknya bisa mencapai ma’rifatullah. Inilah yang mengantarkan pada kebahagiaan sejati, menurut al-Ghasali.

Pada bagian akhir, al-Gazali menjelaskan keajaiban-keajaiban hati. Di antaranya dia menjelaskan bila hati seseorang suci, dituntun agama, menjahui segala kekotoran lahir dan bathin maka hatinya bersih bagai cermin. Sehingga terkadang timbul berbagai keajaiban, seperti bisa mengetahu kejadian yang belum terjadi, bisa mengetahui berbagai hal tanpa melalui proses belajar sekalipun. Ini karena hati bersih bagai cermin, sementara lauh mahfudz juga bagaikan cermin, maka teranglah bagi hati yang bersih segala ketentuan Allah swt yang ada di lauh mahfudz.

Demikianlah konsep racikan kimia kebahagiaan menurut Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Sebuah konsep kebahagiaan ruhani dengan pendekatan khas sufi dan berbasiskan ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad saw. Wallahu a’lam bi al-shawab

Minggu, 01 Mei 2011

Kumpulan Kata Bijak Motivasi

Kumpulan Kata Bijak Motivasi
KATA-KATA BIJAK KEHIDUPAN | KATA BIJAK PARA TOKOH
Contoh yang baik adalah nasehat terbaik. ~ Fuller
Jika kita melayani, maka hidup akan lebih berarti. ~ John Gardne
Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun. ~ Bung Karno
Kita semua hidup dalam ketegangan, dari waktu ke waktu, serta dari hari ke hari; dengan kata lain, kita adalah pahlawan dari cerita kita sendiri. ~ Mary McCarthy
Apa yang nampak sebagai suatu kemurahan hati, sering sebenarnya tiada lain daripada ambisi yang terselubung, yang mengabaikan kepentingan-kepentingan kecil untuk mengejar kepentingan- kepentingan yang lebih besar. ~ La Roucefoucauld
Semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu. ~ Benjamin Franklin
Hati yang penuh syukur, bukan saja merupakan kebajikan yang terbesar, melainkan merupakan pula induk segala kebajikan yang lain. ~ Cicero
Orang yang berhasil akan mengambil manfaat dari kesalahan-kesalahan yang ia lakukan, dan akan mencoba kembali untuk melakukan dalam suatu cara yang berbeda. ~ Dale Carnegie
Istilah tidak ada waktu, jarang sekali merupakan alasan yang jujur, karena pada dasarnya kita semuanya memiliki waktu 24 jam yang sama setiap harinya. Yang perlu ditingkatkan ialah membagi waktu dengan lebih cermat. ~ George Downing
Ancaman nyata sebenarnya bukan pada saat komputer mulai bisa berpikir seperti manusia, tetapi ketika manusia mulai berpikir seperti komputer. ~ Sydney Harris
Cara untuk menjadi di depan adalah memulai sekarang. Jika memulai sekarang, tahun depan Anda akan tahu banyak hal yang sekarang tidak diketahui, dan Anda tak akan mengetahui masa depan jika Anda menunggu-nunggu. ~ William Feather
Dalam masalah hati nurani, pikiran pertamalah yang terbaik. Dalam masalah kebijaksanaan, pemikiran terakhirlah yang paling baik. ~ Robert Hall
Belajarlah dari kesalahan orang lain. Anda tak dapat hidup cukup lama untuk melakukan semua kesalahan itu sendiri. ~ Martin Vanbee
Orang-orang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi. ~ Ernest Newman
Orang-orang yang sukses telah belajar membuat diri mereka melakukan hal yang harus dikerjakan ketika hal itu memang harus dikerjakan, entah mereka menyukainya atau tidak. ~ Aldus Huxley
Kebanyakan dari kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki, tetapi kita selalu menyesali apa yang belum kita capai. ~ Schopenhauer
Musuh yang paling berbahaya di atas dunia ini adalah penakut dan bimbang. Teman yang paling setia, hanyalah keberanian dan keyakinan yang teguh. ~ Andrew Jackson
Sesuatu yang belum dikerjakan, seringkali tampak mustahil; kita baru yakin kalau kita telah berhasil melakukannya dengan baik. ~ Evelyn Underhill
Perbuatan-perbuatan salah adalah biasa bagi manusia, tetapi perbuatan pura-pura itulah sebenarnya yang menimbulkan permusuhan dan pengkhianatan. ~ Johan Wolfgang Goethe
Jika orang berpegang pada keyakinan, maka hilanglah kesangsian. Tetapi, jika orang sudah mulai berpegang pada kesangsian, maka hilanglah keyakinan. ~ Sir Francis Bacon
Karena manusia cinta akan dirinya, tersembunyilah baginya aib dirinya; tidak kelihatan olehnya walaupun nyata. Kecil di pandangnya walaupun bagaimana besarnya. ~ Jalinus At Thabib
Bersikaplah kukuh seperti batu karang yang tidak putus-putus-nya dipukul ombak. Ia tidak saja tetap berdiri kukuh, bahkan ia menenteramkan amarah ombak dan gelombang itu. ~ Marcus Aurelius
Kita melihat kebahagiaan itu seperti pelangi, tidak pernah berada di atas kepala kita sendiri, tetapi selalu berada di atas kepala orang lain. ~ Thomas Hardy
Kaca, porselen dan nama baik, adalah sesuatu yang gampang sekali pecah, dan tak akan dapat direkatkan kembali tanpa meninggalkan bekas yang nampak. ~ Benjamin Franklin
Keramah-tamahan dalam perkataan menciptakan keyakinan, keramahtamahan dalam pemikiran menciptakan kedamaian, keramahtamahan dalam memberi menciptakan kasih. ~ Lao Tse
Rahmat sering datang kepada kita dalam bentuk kesakitan, kehilangan dan kekecewaan; tetapi kalau kita sabar, kita segera akan melihat bentuk aslinya. ~ Joseph Addison
Bagian terbaik dari hidup seseorang adalah perbuatan-perbuatan baiknya dan kasihnya yang tidak diketahui orang lain. ~ William Wordsworth
Kita berdoa kalau kesusahan dan membutuhkan sesuatu, mestinya kita juga berdoa dalam kegembiraan besar dan saat rezeki melimpah. ~ Kahlil Gibran
Semua orang tidak perlu menjadi malu karena pernah berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih bijaksana daripada sebelumnya. ~ Alexander Pope
Teman sejati adalah ia yang meraih tangan anda dan menyentuh hati anda. ~ Heather Pryor
Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah. ~ Thomas Alva Edison
Tiadanya keyakinanlah yang membuat orang takut menghadapi tantangan; dan saya percaya pada diri saya sendiri. ~ Muhammad Ali
Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh. ~ Confusius
Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum. ~ Mahatma Gandhi
Dia yang menciptakan mata nyamuk adalah Dzat yang menciptakan matahari. ~ Bediuzzaman Said Nursi
Penderitaan jiwa mengarahkan keburukan. Putus asa adalah sumber kesesatan; dan kegelapan hati, pangkal penderitaan jiwa. ~ Bediuzzaman Said Nursi
Kebersamaan dalam suatu masyarakat menghasilkan ketenangan dalam segala kegiatan masyarakat itu, sedangkan saling bermusuhan menyebabkan seluruh kegiatan itu mandeg. ~ Bediuzzaman Said Nursi
Menghidupkan kembali agama berarti menghidupkan suatu bangsa. Hidupnya agama berarti cahaya kehidupan. ~ Bediuzzaman Said Nursi
Seseorang yang melihat kebaikan dalam berbagai hal berarti memiliki pikiran yang baik. Dan seseorang yang memiliki pikiran yang baik mendapatkan kenikmatan dari hidup. ~ Bediuzzaman Said Nursi
Pengetahuan tidaklah cukup, maka kita harus mengamalkannya. Niat tidaklah cukup, maka kita harus melakukannya. ~ Johann Wolfgang von Goethe
Pencegahan lebih baik daripada pengobatan. ~ Johann Wolfgang von Goethe
Kearifan ditemukan hanya dalam kebenaran. ~ Johann Wolfgang von Goethe
Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah pincang. ~ Einstein
Perdamaian tidak dapat dijaga dengan kekuatan. Hal itu hanya dapat diraih dengan pengertian. ~ Einstein
Agama sejati adalah hidup yang sesungguhnya – hidup dengan seluruh jiwa seseorang, dengan seluruh kebaikan dan kebajikan seseorang. ~ Einstein
Dua hal yang membangkitkan ketakjuban saya : langit bertaburkan bintang di atas dan alam semesta yang penuh hikmah di dalamnya. ~ Einstein
Apa yang saya saksikan di Alam adalah sebuah tatanan agung yang tidak dapat kita pahami dengan sangat tidak menyeluruh, dan hal itu sudah semestinya menjadikan seseorang yang senantiasa berpikir dilingkupi perasaan rendah hati. ~ Einstein
Sungguh sedikit mereka yang melihat dengan mata mereka sendiri dan merasakan dengan hati mereka sendiri. ~ Einstein
Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil tapi berusahalah menjadi manusia yang berguna. ~ Einstein
**Dari berbagai sumber

Minggu, 24 April 2011

Detik Terakhir Muhammad Rasulullah

Detik Terakhir Muhammad Rasulullah
oleh Ferri Mustika pada 24 April 2011 jam 17:07

Diriwayatkan bahawa surah Al-Maaidah ayat 3 diturunkan pada sesudah waktu asar yaitu pada hari Jumaat di padang Arafah pada musim haji penghabisan [Wada']. Pada masa itu Rasulullah s.a.w. berada di Arafah di atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah s.a.w. tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingati isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan. Setelah itu turun malaikat Jibril a.s. dan berkata:

“Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah s.w.t. dan demikian juga apa yang terlarang olehnya. Oleh itu kamu kumpulkan para sahabatmu dan beritahu kepada mereka bahawa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan kamu.”

Setelah Malaikat Jibril a.s. pergi maka Rasulullah s.a.w. pun berangkat ke Mekah dan terus pergi ke Madinah. Setelah Rasulullah s.a.w. mengumpulkan para sahabat beliau, maka Rasulullah s.a.w. pun menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril a.s.. Apabila para sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata: ”Agama kita telah sempurna. Agama kila telah sempurna.”

Apabila Abu Bakar ra. mendengar keterangan Rasulullah s.a.w. itu, maka ia tidak dapat menahan kesedihannya maka ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar ra. menangis dari pagi hingga ke malam. Kisah tentang Abu Bakar ra. menangis telah sampai kepada para sahabat yang lain, maka berkumpullah para sahabat di depan rumah Abu Bakar ra. dan mereka berkata: “Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? Seharusnya kamu merasa gembira sebab agama kita telah sempuma.” Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar ra. pun berkata, “Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kamu tahu bahawa apabila sesualu perkara itu telah sempuma maka akan kelihatanlah akan kekurangannya. Dengan turunnya ayat tersebut bahawa ia menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah s.a.w.. Hasan dan Husin menjadi yatim dan para isteri nabi menjadi janda.”

Selelah mereka mendengar penjelasan dari Abu Bakar ra. maka sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar ra., lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka telah didengar oleh para sahabat yang lain, maka mereka pun terus memberitahu Rasulullah s.a.w. tentang apa yang mereka lihat itu. Berkata salah seorang dari para sahabat, “Ya Rasulullah s.a.w., kami baru kembali dari rumah Abu Bakar ra. dan kami dapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di depan rumah beliau.” Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar keterangan dari para sahabat, maka berubahlah muka Rasulullah s.a.w. dan dengan bergegas beliau menuju ke rumah Abu Bakar ra.. Setelah Rasulullah s.a.w. sampai di rumah Abu Bakar ra. maka Rasulullah s.a.w. melihat kesemua mereka yang menangis dan bertanya, “Wahai para sahabatku, kenapakah kamu semua menangis?.” Kemudian Ali ra. berkata, “YaRasulullah s.a.w., Abu Bakar ra. mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya Rasulullah?.” Lalu Rasulullah s.a.w. berkata: “Semua yang dikatakan oleh Abu Bakar ra. adalah benar, dan sesungguhnya waktu untuk aku meninggalkan kamu semua telah dekat”.

Setelah Abu Bakar ra. mendengar pengakuan Rasulullah s.a.w., maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pingsan. Sementara ‘Ukasyah ra. berkata kepada Rasulullah s.a.w., ‘Ya Rasulullah, waktu itu saya anda pukul pada tulang rusuk saya. Oleh itu saya hendak tahu apakah anda sengaja memukul saya atau hendak memukul unta baginda.” Rasulullah s.a.w. berkata: “Wahai ‘Ukasyah, Rasulullah s.a.w. sengaja memukul kamu.” Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata kepada Bilal ra., “Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku ke mari.” Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fathimah sambil meletakkan tangannya di atas kepala dengan berkata, “Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk dibalas [diqishash].”

Setelah Bilal sampai di rumah Fathimah maka Bilal pun memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fathimah ra. menyahut dengan berkata: “Siapakah di pintu?.” Lalu Bilal ra. berkata: “Saya Bilal, saya telah diperintahkan oleh Rasulullah s.a.w. untuk mengambil tongkat beliau. “Kemudian Fathimah ra. berkata: “Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya.” Berkata Bilal ra.: “Wahai Fathimah, Rasulullah s.a.w.telah menyediakan dirinya untuk diqishash.” Bertanya Fathimah ra. lagi: “Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hatinya untuk menqishash Rasulullah s.a.w.?” Bilal ra. tidak menjawab pertanyaan Fathimah ra., Setelah Fathimah ra. memberikan tongkat tersebut, maka Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah s.a.w. Setelah Rasulullah s.a.w. menerima tongkat tersebut dari Bilal ra. maka beliau pun menyerahkan kepada ‘Ukasyah.

Melihatkan hal yang demikian maka Abu Bakar ra. dan Umar ra. tampil ke depan sambil berkata: “Wahai ‘Ukasyah, janganlah kamu qishash Rasulullah s.a.w. tetapi kamu qishashlah kami berdua.” Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar kata-kata Abu Bakar ra. dan Umar ra. maka dengan segera beliau berkata: “Wahai Abu Bakar, Umar duduklah kamu berdua, sesungguhnya Allah s.w.t.telah menetapkan tempatnya untuk kamu berdua.” Kemudian Ali ra. bangun, lalu berkata, “Wahai ‘Ukasyah! Aku adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah s.a.w. oleh itu kamu pukullah aku dan janganlah kamu menqishash Rasulullah s.a.w.” Lalu Rasulullah s.a.w. berkata, “Wahai Ali duduklah kamu, sesungguhnya Allah s.w.t. telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu.” Setelah itu Hasan dan Husin bangun dengan berkata: “Wahai ‘Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah s.a.w., kalau kamu menqishash kami sama dengan kamu menqishash Rasulullah s.a.w.” Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah s.a.w. pun berkata, “Wahai buah hatiku duduklah kamu berdua.” Berkata Rasulullah s.a.w. “Wahai ‘Ukasyah pukullah saya kalau kamu hendak memukul.”

Kemudian ‘Ukasyah berkata: “Ya Rasulullah s.a.w., anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju.” Maka Rasulullah s.a.w. pun membuka baju. Setelah Rasulullah s.a.w. membuka baju maka menangislah semua yang hadir. Setelah ‘Ukasyah melihat tubuh Rasulullah s.a.w. maka ia pun mencium beliau dan berkata, “Saya tebus anda dengan jiwa saya ya Rasulullah s.a.w., siapakah yang sanggup memukul anda. Saya melakukan begini adalah sebab saya ingin menyentuh badan anda yang dimuliakan oleh Allah s.w.t. dengan badan saya. Dan Allah s.w.t. menjaga saya dari neraka dengan kehormatanmu” Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata, “Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli syurga, inilah orangnya.” Kemudian semua para jemaah bersalam-salaman atas kegembiraan mereka terhadap peristiwa yang sangat genting itu. Setelah itu para jemaah pun berkata, “Wahai ‘Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperolehi darjat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah s.a.w. di dalam syurga.”

Apabila ajal Rasulullah s.a.w. makin dekat maka beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Aisyah ra. dan beliau berkata: “Selamat datang kamu semua semoga Allah s.w.t. mengasihi kamu semua, saya berwasiat kepada kamu semua agar kamu semua bertaqwa kepada Allah s.w.t. dan mentaati segala perintahnya. Sesungguhnya hari perpisahan antara saya dengan kamu semua hampir dekat, dan dekat pula saat kembalinya seorang hamba kepada Allah s.w.t. dan menempatkannya di syurga. Kalau telah sampai ajalku maka hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abbas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. Setelah itu kamu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri apabila kamu semua menghendaki, atau kafanilah aku dengan kain Yaman yang putih. Apabila kamu memandikan aku, maka hendaklah kamu letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kamu semua keluarlah sebentar meninggalkan aku. Pertama yang akan mensolatkan aku ialah Allah s.w.t., kemudian yang akan mensolat aku ialah Jibril a.s., kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, malaikat Mikail, dan yang akhir sekali malaikat lzrail berserta dengan semua para pembantunya. Setelah itu baru kamu semua masuk bergantian secara berkelompok bersolat ke atasku.”

Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu maka mereka pun menangis dengan nada yang keras dan berkata, “Ya Rasulullah s.a.w. anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, yang mana selama ini anda memberi kekuatan dalam penemuan kami dan sebagai penguasa yang menguruskan perkara kami. Apabila anda sudah tiada nanti kepada siapakah akan kami tanya setiap persoalan yang timbul nanti?.” Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata, “Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kamu semua jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan kepada kamu semua dua penasihat yang satu daripadanya pandai bicara dan yang satu lagi diam sahaja. Yang pandai bicara itu ialah Al-Quran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada sesuatu persoalan yang rumit di antara kamu, maka hendaklah kamu semua kembali kepada Al-Quran dan Hadis-ku dan sekiranya hati kamu itu berkeras maka lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati.”

Setelah Rasulullah s.a.w. berkata demikian, maka sakit Rasulullah s.a.w. bermula. Dalam bulan safar Rasulullah s.a.w. sakit selama 18 hari dan sering diziaiahi oleh para sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan bahawa Rasulullah s.a.w. diutus pada hari Isnin dan wafat pada hari Isnin. Pada hari Isnin penyakit Rasulullah s.a.w. bertambah berat, setelah Bilal ra. menyelesaikan azan subuh, maka Bilal ra. pun pergi ke rumah Rasulullah s.a.w.. Sesampainya Bilal ra. di rumah Rasulullah s.a.w. maka Bilal ra. pun memberi salam, “Assalaarnualaika ya Rasulullah.” Lalu dijawab oleh Fathimah ra., “Rasulullah s.a.w. masih sibuk dengan urusan beliau.” Setelah Bilal ra. mendengar penjelasan dari Fathimah ra. maka Bilal ra. pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fathimah ra. itu. Apabila waktu subuh hampir hendak lupus, lalu Bilal pergi sekali lagi ke rumah Rasulullah s.a.w. dan memberi salam seperti permulaan tadi, kali ini salam Bilal ra. telah di dengar oleh Rasulullah s.a.w. dan Rasulullah s.a.w. berkata, “Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh itu kamu suruhlah Abu Bakar mengimamkan solat subuh berjemaah dengan mereka yang hadir.” Setelah mendengar kata-kata Rasulullah s.a.w. maka Bilal ra. pun berjalan menuju ke masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala dengan berkata: “Aduh musibah.”

Setelah Bilal ra. sarnpai di masjid maka Bilal ra. pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah s.a.w. katakan kepadanya. Abu Bakar ra. tidak dapat menahan dirinya apabila ia melihat mimbar kosong maka dengan suara yang keras Abu Bakar ra. menangis sehingga ia jatuh pingsan. Melihatkan peristiwa ini maka riuh rendah tangisan sahabat dalam masjid, sehingga Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Fathimah ra.; “Wahai Fathimah apakah yang telah berlaku?.” Maka Fathimah ra. pun berkata: “Kekecohan kaum muslimin, sebab anda tidak pergi ke masjid.” Kemudian Rasulullah s.a.w. memanggil Ali ra. dan Fadhl bin Abas ra., lalu Rasulullah s.a.w. bersandar kepada kedua mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah Rasulullah s.a.w. sampai di masjid maka Rasulullah s.a.w. pun bersolat subuh bersama dengan para jemaah.

Setelah selesai solat subuh maka Rasulullah s.a.w. pun berkata, “Wahai kaum muslimin, kamu semua senantiasa dalam pertolongan dan pemeliharaan Allah s.w.t., oleh itu hendaklah kamu semua bertaqwa kepada Allah s.w.t. dan mengerjakan segala perintahnya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kamu semua, dan hari ini adalah hari pertama aku di akhirat dan hari terakhir aku di dunia.” Setelah berkata demikian maka Rasulullah s.a.w. pun pulang ke rumah beliau. Kemudian Allah s.w.t. mewahyukan kepada malaikat lzrail a.s., “Wahai lzrail, pergilah kamu kepada kekasihku dengan sebaik-baik rupa, dan apabila kamu hendak mencabut ruhnya maka hendaklah kamu melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Apabila kamu pergi ke rumahnya maka minta izinlah terlebih dahulu, kalau ia izinkan kamu masuk, maka masuklah kamu ke rumahnya dan kalau ia tidak mengizinkan kamu masuk maka hendaklah kamu kembali padaku.”

Setelah malaikat lzrail mendapat perintah dari Allah s.w.t. maka malaikal lzrail pun turun dengan menyerupai orang Arab Badwi. Setelah malaikat lzrail sampai di depan rumah Rasulullah s.a.w. maka ia pun memberi salam, “Assalaamu alaikum yaa ahla baitin nubuwwati wa ma danir risaalati a adkhulu?” (Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu semua sekalian, wahai penghuni rumah nabi dan sumber risaalah, bolehkan saya masuk?) Apabila Fathimah mendengar orang memberi salam maka ia-pun berkata; “Wahai hamba Allah, Rasulullah s.a.w. sedang sibuk sebab sakitnya yang semakin berat.” Kemudian malaikat lzrail berkata lagi seperti dipermulaannya, dan kali ini seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah s.a.w. dan Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Fathimah ra., “Wahai Fathimah, siapakah di depan pintu itu.” Maka Fathimah ra. pun berkata, “Ya Rasulullah, ada seorang Arab badwi memanggil mu, dan aku telah katakan kepadanya bahawa anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandang saya dengan tajam sehingga terasa menggigil badan saya.” Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata; “Wahai Fathimah, tahukah kamu siapakah orang itu?.” Jawab Fathimah, “Tidak ayah.” “Dia adalah malaikat lzrail, malaikat yang akan memutuskan segala macam nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur.” Fathimah ra. tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui bahawa saat perpisahan dengan ayahandanya akan berakhir, dia menangis sepuas-puasnya. Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar tangisan Falimah ra. maka beliau pun berkata: “Janganlah kamu menangis wahai Fathimah, engkaulah orang yang pertama dalam keluargaku akan bertemu dengan aku.” Kemudian Rasulullah s.a.w. pun mengizinkan malaikat lzrail masuk. Maka malaikat lzrail pun masuk dengan mengucap, “Assalamuaalaikum ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah s.a.w. menjawab: “Wa alaikas saalamu, wahai lzrail engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut ruhku?” Maka berkata malaikat lzrail: “Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut ruhmu, itupun kalau engkau izinkan, kalau engkau tidak izinkan maka aku akan kembali.” Berkata Rasulullah s.a.w., “Wahai lzrail, di manakah kamu tinggalkan Jibril?” Berkata lzrail: “Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, para malaikat sedang memuliakan dia.” Tidak beberapa lama kemudian Jibril a.s. pun turun dan duduk di dekat kepala Rasulullah s.a.w..

Apabila Rasulullah s.a.w. melihat kedatangan Jibril a.s. maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: “Wahai Jibril, tahukah kamu bahwa ajalku sudah dekat” Berkata Jibril a.s., “Ya aku tahu” Rasulullah s.a.w. bertanya lagi, “Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakan aku disisi Allah s.w.t” Berkata Jibril a.s., “Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat bersusun rapi menanti ruhmu dilangit. Kesemua pintu-pintu syurga telah dibuka, dan kesemua bidadari sudah berhias menanti kehadiran ruhmu.” Berkata Rasulullah s.a.w.: “Alhamdulillah, sekarang kamu katakan pula tentang umatku di hari kiamat nanti.” Berkata Jibril a.s., “Allah s.w.t. telah berfirman yang bermaksud,“Sesungguhnya aku telah melarang semua para nabi masuk ke dalam syurga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki syurga sebelum umatmu memasuki syurga.”

Berkata Rasulullah s.a.w.: “Sekarang aku telah puas hati dan telah hilang rasa susahku.” Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata: “Wahai lzrail, mendekatlah kamu kepadaku.” Setelah itu Malaikat lzrail pun memulai tugasnya, apabila ruh beliau sampai pada pusat, maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: “Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya rasa mati.” Jibrila.s. mengalihkan pandangan dari Rasulullah s.a.w. apabila mendengar kata-kata beliau itu. Melihatkan telatah Jibril a.s. itu maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: “Wahai Jibril, apakah kamu tidak suka melihat wajahku?” Jibril a.s. berkata: “Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu dikala kamu dalam sakaratul maut?” Anas bin Malik ra. berkata: “Apabila ruh Rasulullah s.a.w. telah sampai di dada beliau telah bersabda,“Aku wasiatkan kepada kamu agar kamu semua menjaga solat dan apa-apa yang telah diperintahkan ke atasmu.”

Ali ra. berkata: “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. ketika menjelang saat-saat terakhir, telah mengerakkan kedua bibir beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga, saya dengan Rasulullah s.a.w. berkata: “Umatku, umatku.”



Allahuma shali ala sayidina Muhammad wa abduhu wa rosullu..