Cari Blog Ini

Kamis, 02 Juni 2011

Allah Telah Menjadikan Kunci Bagi Segala Sesuatu

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu kunci untuk membukanya, Allah menjadikan kunci pembuka shalat adalah bersuci sebagaiman sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Kunci shalat adalah bersuci’, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kunci pembuka haji adalah ihram, kunci kebajikan adalah kejujuran, kunci surga adalah tauhid, kunci ilmu adalah bagusnya bertanya dan mendengarkan, kunci kemenangan adalah kesabaran, kunci ditambahnya nikmat adalah syukur, kunci kewalian adalah mahabbah dan dzikir, kunci keberuntungan adalah takwa, kunci taufik adalah harap dan cemas kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kunci dikabulkan adalah doa, kunci keinginan terhadap akhirat adalah zuhud di dunia, kunci keimanan adalah tafakkur pada hal yang diperintahkan Allah, keselamatan bagi-Nya, serta keikhlasan terhadap-Nya di dalam kecintaan, kebencian, melakukan, dan meninggalkan, kunci hidupnya hati adalah tadabbur al-Qur’an, beribadah di waktu sahur, dan meninggalkan dosa-dosa, kunci didapatkannya rahmat adalah ihsan di dalam peribadatan terhadap Khaliq dan berupaya memberi manfaat kepada para hamba-Nya, kunci rezeki adalah usaha bersama istighfar dan takwa, kunci kemuliaan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, kunci persiapan untuk akhirat adalah pendeknya angan-angan, kunci semua kebaikan adalah keinginan terhadap Allah dan kampung akhirat, kunci semua kejelekan adalah cinta dunia dan panjangnya angan-angan.


“Ini adalah bab yang agung dari bab-bab ilmu yang paling bermanfaat, yaitu mengetahui pintu-pintu kebaikan dan kejelekan, tidaklah diberi taufik untuk mengetahuinya dan memperhatikannya kecuali seorang yang memiliki bagian dan taufik yang agung, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kunci bagi setiap kebaikan dan kejelekan, kunci dan pintu untuk masuk kepadanya sebagaimana Allah jadikan kesyirikan, kesombongan, berpaling dari apa yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya, dan lalai dari dzikir terhadap-Nya dan melaksanakan hak-Nya sebagai kunci ke neraka, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan khamr sebagai kunci segala dosa. Dia jadikan nyanyian sebagai kunci perzinaan, Dia jadikan melepaskan pandangan pada gamba-gambar sebagai kunci kegelisahan dan kegandrungan, Dia jadikan kemalasan dan kesantaian sebagai kunci kerugian dan luputnya segala sesuatu, Dia jadikan kemaksiatan-kemaksiatan sebagai kunci kekufuran, Dia jadikan dusta sebagai kunci kenifakan (kemunafikan -ed), Dia jadikan kekikiran dan ketamakan sebagai kunci kebakhilan, memutus silaturahim, serta mengambil harta dengan cara yang tidak halal dan Dia jadikan berpaling dari apa yang dibawa Rasul sebagai kunci segala kebid’ahan dan kesesatan.

“Perkara-perkara ini tidaklah membenarkannya kecuali setiap orang yang memiliki ilmu yang shahih dan akal yang bisa mengetahui dengannya apa yang ada dalam dirinya dan apa yang berwujud dari kebaikan dan kejelekan. Maka sepantasnya seorang hamba memperhatikan dengan sebaik-baiknya ilmu terhadap kunci-kunci ini dan kunci-kunci yang dijadikan untuknya.” (Hadil Arwah 1/48-49)

KUNCI ZUHUD HASAN AL-BASHRI

September 13, 2009
oleh wajidi


AKU TAHU,
REZEKIKU TAK MUNGKIN DIAMBIL ORANG LAIN,
KARENANYA HATIKU TENANG.

AKU TAHU,
AMAL-AMALKU TAK MUNGKIN DILAKUKAN ORANG LAIN,
MAKA AKU SIBUKKAN DIRIKU UNTUK BERAMAL.

AKU TAHU,
ALLAH SELALU MELIHATKU,
KARENANYA AKU MALU BILA ALLAH MENDAPATIKU MELAKUKAN MAKSIAT.

AKU TAHU,
KEMATIAN MENANTIKU,
KARENANYA KUPERSIAPKAN BEKAL UNTUK BERJUMPA DENGAN RABBKU.

(Hasan Al-Bashri)

Hasan Al-Bashri atau Abu Sa’id Al-Hasan ibn Abi-Al-Hasan Yasar Al-Bashri dalam jajaran mistikus muslim dikenal sebagai seorang yang memiliki sikap spiritualitas yang tinggi dan kehidupan zuhudnya yang menggugah hati menjadi referensi dan inspirasi bagi orang beriman dari masa ke masa.
Beliau dilahirkan di Madinah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 21 Hijriah (642 M). Pernah menyusu pada Ummu Salmah, isteri Rasulullah S.A.W., ketika ibunya keluar melaksanakan suruhan beliau. Hasan Al-Bashri pernah berguru kepada beberapa orang sahabat Rasul S.A.W. sehingga beliau muncul sebagai ulama terkemuka dalam peradaban Islam. Hasan Al-Bashri meninggal di Basrah, Iraq, pada 110 Hijrah (728 M).
Hasan Al-Bashri dikenal memiliki kepribadian yang santun, ramah, penuh kasih, dan bersahaja. Nasihat-nasihat spiritualnya begitu mudah menembus kedalam hati para muridnya, karena beliau memang mampu tampil sebagai contoh ideal dari semua ajarannya. Baginya, nasihat dengan perbuatan jauh lebih efektif dibandingkan nasihat dengan kata-kata.

“Kunci Zuhud” di atas, merupakan jawaban Hasan Al-Bashri ketika beliau ditanya kenapa dia selalu tenang dalam menghadapi hidup dan sibuk bekerja serta sibuk beramal? Semoga menjadi inspirasi dan penyejuk hati dalam mengarungi kehidupan dunia yang fana ini.

Rabu, 01 Juni 2011

Hadist motivasi kerja

by Lucky Arif on 12:56 AM, 12-Sep-10

Sekarang banyak orang yang mendapat libur yang panjang, terkadang ada perasan malas yang menggoda kita untuk kembali bekerja sediakala, nah untuk itu Rasulullah saw memberikan teladan kepada kita dalam banyak hadits agar kita selalu giat dalam mencari rezeki, diantaranya :

1. Mencari rezeki yang halal adalah
wajib sesudah menunaikan yang
fardhu (seperti shalat, puasa, dll).
(HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
2. Sesungguhnya Ruhul Qudus
(malaikat Jibril) membisikkan
dalam benakku bahwa jiwa tidak
akan wafat sebelum lengkap dan
sempurna rezekinya. Karena itu
hendaklah kamu bertakwa kepada
Allah dan memperbaiki mata
pencaharianmu. Apabila
datangnya rezeki itu terlambat,
janganlah kamu memburunya
dengan jalan bermaksiat kepada
Allah karena apa yang ada di sisi
Allah hanya bisa diraih dengan
ketaatan kepada-Nya. (HR. Abu Zar
dan Al Hakim)
3. Sesungguhnya Allah suka
kepada hamba yang berkarya dan
terampil (professional atau ahli).
Barangsiapa bersusah-payah
mencari nafkah untuk
keluarganya maka dia serupa
dengan seorang mujahid di jalan
Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad)
4. Barangsiapa pada malam hari
merasakan kelelahan dari upaya
ketrampilan kedua tangannya
pada siang hari maka pada malam
itu ia diampuni oleh Allah. (HR.
Ahmad)
5. Sesungguhnya di antara dosa-
dosa ada yang tidak bisa dihapus
(ditebus) dengan pahala shalat,
sedekah atau haji namun hanya
dapat ditebus dengan kesusah-
payahan dalam mencari nafkah.
(HR. Ath-Thabrani)
6. Sesungguhnya Allah Ta'ala
senang melihat hambaNya
bersusah payah (lelah) dalam
mencari rezeki yang halal. (HR. Ad-
Dailami)
7. Seorang yang membawa
tambang lalu pergi mencari dan
mengumpulkan kayu bakar lantas
dibawanya ke pasar untuk dijual
dan uangnya digunakan untuk
mencukupi kebutuhan dan nafkah
dirinya maka itu lebih baik dari
seorang yang meminta-minta
kepada orang-orang yang
terkadang diberi dan kadang
ditolak. (Mutafaq'alaih)
8. Tiada makanan yang lebih baik
daripada hasil usaha tangan
sendiri. (HR. Bukhari)
9. Seusai shalat fajar (subuh)
janganlah kamu tidur sehingga
melalaikan kamu untuk mencari
rezeki. (HR. Ath-Thabrani)
10. Bangunlah pagi hari untuk
mencari rezeki dan kebutuhan-
kebutuhanmu. Sesungguhnya
pada pagi hari terdapat barokah
dan keberuntungan. (HR. Ath-
Thabrani dan Al-Bazzar)
11. Ya Allah, berkahilah umatku
pada waktu pagi hari mereka
(bangun fajar). (HR. Ahmad)
12. Apabila dibukakan bagi
seseorang pintu rezeki maka
hendaklah dia melestarikannya.
(HR. Al-Baihaqi)
Keterangan : Yakni senantiasa
bersungguh-sungguh dan
konsentrasi di bidang usaha
tersebut, serta jangan suka
berpindah-pindah ke pintu-pintu
rezeki lain atau berpindah-pindah
usaha karena di khawatirkan
pintu rezeki yang sudah jelas
dibukakan tersebut menjadi hilang
dari genggaman karena
kesibukkan nya mengurus usaha
yang lain. Seandainya memang
mampu maka hal tersebut tidak
mengapa.