Kepasrahan Jiwa
Riwayat dari Irman bin Hashin,bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda :
“Dari ummatku bakal masuk syurga tujuh puluh ribu orang tanpa hisab.” Mereka bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW bersabda, “Mereka itu adalah orang yang tidak pernah melakukan ruqyah, tidak pernah meramal, tidak pernah berbekam, dan mereka senantiasa tawakal kepada Allah.” (HR. Muslim)
Rasulullah SAW memposisikan “ramalan” diurutan kedua, setelah berupaya untuk tidak berobat yang merupakan derajat murni sejati, yang tergolong ahli fana’, dan mereka senantiasa dalam kehendak Allah SWT.
Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka. Namun betapa sedikit jumlah mereka dalam setiap periode. Karena derajat mereka adalah mewujudkan hakikat tawakal kepada Allah SWT. Kepasrahan total yang meliputi seluruh instrument sebab akibat dan kehendak. Merekalah kaum ‘arifin Billah yang sesungguhnya, semoga Allah meridhoi mereka.
Amboi, jika orang ‘alim itu terbagi dua “
1. Satu golongan yang membuatku terbatas dari keraguan.
2. Satu golongan yang menggunting-gunting diriku dari gunting mereka. Tak lebih dantak kurang mereka itu, dimataku.
Anak-anak sekalian… ketahuilah orang ‘arif kepada Allah SWT dengan ma’rifat yang benar, senantiasa terhanguskan hasratnya dibawah keceriaan dalam wahdaniyahNya. Dan tak ada keceriaan mulai dari Arasy sampai muka bumi yang lebih besar dibandingkan kegembiraan ma’rifat kepada Allah SWT.
Syurga seisinya itu disbanding isi kegembiraan mereka kepada Allah SWT nilainya sangat kecil, lebih kecil disbanding atom, ketika nereka tahu bahwa ma’rifat adalah kegembiraan paling agung dari segala kegembiraan manapun. Siapa yang bertemu Allah SWT, maka mana yang tak bisa ditemukan? Kesibukan apalagi yang akan dilakukan setelah bertemu denganNya? Bukankah melihat selain Allah itu tak lebih dari keliaran nafsu belaka? Hasrat yang rendah? Dan minimnya ma’rifat kepada Allah Ta’ala.
Allah SWT berfirman :
“Katakan, dengan karunia Allah dan dengan rahmatNya, maka dengan karunia dan rahmat itulah kalian semua bergembira…”
Dalam sebagian munajatnya Ibrahim bin Adham ra mengatakan :
“Ilahi, Engkau Maha Tahu syurga dan seisinya, rasanya tak melintas padaku walau sesayap nyamuk setelah Engkau beri aku ma’rifat kepadaMua,dan kemesraanku padaMu, dan Endkau telah membuatkan mencurah untuk tafakur atas keagunganMu, serta Engaku telah menjanjikan padaku utnuk memandang WajahMu.”
Memang, sesungguhnya derajat terendah kaum ‘arifin itu, manakala Allah memasukkannya kedalam neraka yang diliputi adzab, maka hatinya malah tambah cinta kepadaNya, semakin mesra sukacita padaNya, dan semakin rindu kepadaNya.
Ibnu Siirin ra berkata, “Jika aku harus memilih antara syurga dan sholat dua rekaat, aku memilih sgolat dua rekaat. Karena dalam dua rakaat ada ridhonya Allah SWT, taqarrub kepadaNya. Sedang dalam syurga yang ada kesenangan nafsu dan kesenangan manusia.”
Ketika Nabi Ibrahim as dilemparkan kedalam api, “Mereka mengatakan, bakarlah dia, dan mintalah pertolongan pada Tuhan kalian!” kata mereka. Nabi Ibrahim as menjawab, “Cukuplah bagiku Tuhanku dan Dialah sbaik-baik tempat berserah diri, sebaik-baik Tuhan dan sebaik-baik Penolong.”
Kemudian Allah SWT berfirman, “Wahai api jadilah dirimu dingin sejuk dan menyelamatkan atas ibrahim.”
Berserah diri.
Diriwayatkan, ketika Allah SWT berfirman kepada Nabi I(brahim as, “Wahai Ibrahim, engkaulah sahabat dekatku, dan Aku sahabat dekatmu. Maka jangan berpaling dariKu, yang menyebabkan putusnya hubungan kesahabatan antara diriKu dan dirimu, karena orang yang benar-benar mengaku sahabat dekatKu jika dibakar oleh api, hatinya sama sekali tidak bergeser dariKu, karena menghormati kebesaranKu.”
Allah SWT juga menyebutkan dalam Al Qur’an :
“Ketika Tuhannya berkata kepada Ibrahim, “Islamlah”! Ibrahim menjawab, “Aku Islam kepada Tuhannya Semesta Alam.”
Allah SWT mengetahui kepasrahan totalnya (Islam) sampai kemudian ia dilempar kedalam api.
Abu Abdullah bin Muqotil ra bermunajat :
“Ilahi, janganlah Engkau masukkan diriku kedalam neraka, karena api pun bisa menjadi dingin padaku karena cintaku kepadaMu.”
Abu Ayyub as-sikhtiyani ra berkata, “Neraka itu ditakuti, bagi mereka yang lupa akan Tuhannya. Lalu dikatakan pada mereka yang lupa itu : “Raakan semua atas kelalaianmu dalam pertemuan harimu ini…” dengan segenap balasan amalnya.”
Abu Hafsh ra menegaskan, “Saya sangat hawatir atas ma’rifat sebagian orang, yang sudah ditulis di jubah mereka, “Orang-orang merdekanya Allah setelah dikeluarkan dari neraka…”. Namun mereka memohon agar tanda tulisan itu dihapus dari mereka. Jika aku jadi mereka, aku sangat memohon agar tanda itu ditulis diseluruh anggota badanku, dan membuatku cukup bangga: “Akulah dari golongan orang yang dimerdekalan dari neraka…!”. Menurutku, apa yang diraih ahli syurga dalam syurganya adalah Robb Ta’ala, kedekatan padaNya, dan memandangNya serta mendengarkan kalamNya.
Ingat isteri Firaun ketika bermunajat :
“Tuhanku, bangunkan rumah bagiku di sisiMu dalam syurga.”
Sebagaimana disebutkan, “Tetangga dulu, baru rumah.”
Ibrahim bin Adham ra mengatakan, “AKu sangat alu jika tujuan ummatku adalah makhluk, padahal Allah SWT telah berfirman kepada sebagian nabiNya, “Siapa yang berkehendak pada kami, ia tak ingin selain diri kami…”
Sebagian Syekh Sufi mengatakan, “Aku pernah melihat seorang pemuda di Masjidil Haram sedang dalam kondisi menderita dan kelaparan, saya sangat kasihan padanya. Aku punya seraus dinar dalam kantong, lalu kudekati dia. “Hai anak muda, inibuat kebutuhan-kebutuhanmu…” Pemuda itu tidak menoleh sama sekali padaku, dan aku terus mendesaknya. Pemuda itu berkata, “Hai Syeikh, dinar ini sesuatu yang tak bisa aku jual dengan syurga dan seisinya. Syurga itu negeri keagungan, asal sumber keteguhan dan keabadian. Bagaimana aku menjualnya dengan harga yang hina?”
Abu Musa ad-Daylaby, -pelayan Abu Yazid- semoga Allah merehmati keduanya, berkata, “Aku pernah mendengar seorang Syeikh di Bistham mengatakan, “AKu bermimpi, sepertiya Allah SWT berfirman : “Kalian semua sedang mencari sesuatu dariKu – selain Abu Yazid – sesungguhnya dia mencariKu dan mendhendakiKu, dan Aku pun menghedakiNya.”
Abu Abdullah ra mengatakan, “Jadikan Allah itu sebagai majelis dan tempat kemesraan. Disiplinlah khidmah pada Tuhanmu. Maka dunia akan dating kepadamu dalam keadaan merana, dan kau diburu akhirat, dan akhirat begitu rindu…”
“Hai pemburu dunia, tinggalkan dunia, maka duniamemburumu”, lanjutnya.
Abu Said al-Kharraz ra mengatakan, “Suatu hari aku di tempat wuquf, lalu aku ingin memohon kepad Allah SWT sesuatu kebutuhan. Lantas muncul bisikan lembut tanpa suara kepadaku.” Di hadapanmu Allah, kamu masih mencari selain Allah?”
Ada seseorang menulis surat kepada saudaranya, “Amma Ba’du : “Tamparlah muka para penghasrat dunia dengan dunianya, tamparlah pencari akhirat pada wajah pemburunya. Bermesralah dengan Robbul ‘alamin. Wassalam.”
Abu Abdullah an-Nasaj ra mengatakan, “Janganlah menumpuk banyak syurga bagi orang beriman, karena Allah akan memberikan kelayakan yang lebih layak disbanding syurga, yaitu ma’rifat.”
Seseorang sholat jenazah dengan lima takbir. Ditanya kenapa sampai lima kali? “Empat takbiranku untuk si mayit. Dan satu utnuk dua rumah dunia-akhirat)…” katanya.
Kisah terjadi ketika ayat Al Qur’an dibacakan pada Abu Yazid, “Diantara kaian ada yang berharap dunia, dan diantara kalian ada yang berharap akhirat…” Lalu Abu Yazid berkata, “Mana yang berharap kepada Tuhan?”
Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib kwh, berkata kepada Abu Bakr ash-Shiddiq ra, “Wahai Khalifah Rasulullah SAW, bagaimana anda meraih posisi derajat ini hingga mendahului kami?”
Abu Bakr Shiddiq ra menjawab, “Dengan lima perkara.”
Pertama : Aku dapatkan manusia dua kelompok, pemburu dunia dan pemburu akhirat, sedangkan aku pemburu Tuhan.
Kedua : Sejak aku masuk Islam, aku tak pernah key\nyang dengan makanan dunia.
Ketiga : Aku tak pernah segar minum – minuman dunia.
Keempat : Jika muncul dihadapanku dua pilihan amaliah : amal dunia dan amal akhirat, aku pasti memilih amal akhirat.
Kelima : Aku berguru (bersahabat) pada Nabi SAW, dan aku senantiasa bersahabat yang sebaik-baiknya.
“Sengguh mulia bagimu waha Abu Bakr…” kata Sayyidina Ali khw.
Haalatu Ahlil Haqiqah Ma'Allah (Syekh Ahmad Ar-Rifa'y)
Alih Bahasa oleh : KH. Luqman Hakim MA.
SUMBER:http://rizkipra0204.blogspot.com/2010/02/kepasrahan-jiwa.html
MUHAMMAD MUZAYYIN RUKHAN lahir di Kediri 2 April l950 kakek dari empat cucu, fasa, sifa, hanum dan nisa’. pensiunan pelatih motivator program keluarga berenca nasional sekarang aktif dalam kegiatan pelayanan umat, seorang khatib masjid jamik Mambaul Ulum, menyisakan umurnya untuk menuntun umat meniti dan kembali kejalan Allah
Cari Blog Ini
Kamis, 21 Oktober 2010
mengapa harus berdzikir?
ZIKIR KEPADA ALLAH SWT.
Manusia adalah makhluk rentan dalam kehidupan.Sesekali atau berkali-kali dalam hidupnya selalu mengalami perubahan.Karena itu memang sudah fitrahnya.Tidak seperti halnya malaikat yang selalu konstan.Di karenakan di belakang kita ada zat yang selalu mengubah itu,yaitu yang di sebut dzat muqollibal quluub(Dzat yang membolak-balikan hati).Perubahan hati itu selalu di iringi dengan karakter perubahan pada hati tiap detiknya.Kondisi hati yang senantiasa berubah ini bukan karena tidak memiliki faktor-faktor tertentu.Ada juga hati berubah karena hati kita di sibukan oleh hal-hal selain Allah swt.Dan yang lebih ironisnya lagi ketika hati sudah melupakan Allah swt sama sekali.Oleh karena itu,untuk menjaga hati agar hati kita selalu hidup,maka ingatlah kepada Allah swt.Dalam salah satu hadis dikatakan,"Kalau hati tidak di isi dengan zikir,maka ia bagaikan bangkai".
Suatu ketika nabi pernah di tanaya tentang apa yang di sebut dengan qolbun salim ini,kemudian Nabi menjawab,"Itu keyakinan agama yang tidak di campuri dengan keragu-raguan hawa nafsu."Mungkin sulit untuk menggambarkan keyakinan itu.Tetapi ,ada penelitian yang mengatakan ,ada dua macam cara beragama,yaitu intrinsik dan ekstrinsik.Ada anggapan,makin bergama orang itu makin sehat jiwanya.Yang harus ditentukan terlebih dahulu adalah tipe orang beragama itu.Kalau beragama di ukur dengan berapa banyak datang ke masjid ,maka keberagamaan tidak menjamin kesehatan jiwa.Karena sering kali orang datang ke masjid dalam penelitian ,bukan karena keyakinan tetapi karena hawa nafsu.Mungkin seseorang dateng ke masjid ingin memperoleh pasangan hidup,ingin mendapat pengakuan sosial,atau menjalin relasi bisnis.
Agama seringkali di pakai sebagai tempat pelarian.Orang lari kepada Agama untuk memperkokoh harga dirinya,ada yang karena frustasi akibat pergumulan hidup.Ia menemukan satu aliran agama yang menawarkan apa yang di carinya.Itu keberagamaan ekstrinsik.Bagaimana beragama yang intrinsik.Rosululloh saw menyebutnya:"Keyakinan yang tidak di masuki hawa nafsu".Beliau bersabda,Qolbun salim adalah keyakinan yang tidak di masuki keraguan dan hawa nafsu."Di sini orang beramal tanpa berkeinginan untuk pamer dan ingin di puji." Allah swt berfirman :"(yaitu) orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah.Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram".(QS 13:28).
Dalam ayat itu disebutkan bahwa cara memperoleh ketentraman hati adalah dengan berzikir kepada Allah,tetapi tidak semua zikir itu menentramkan hati.Karena itu syarat zikir yang dapat menentramkan hati adalah zikir orang yang beriman .Orang yang tidak beriman tidak bisa tentram dalam berzikir .Sebaliknya,orang yang beriman tidak akan tentram hatinya kecuali dengan zikir kepada Allah swt.
Karena itu,kalau anda beriman jangan mencari ketentraman pada kekayaan,kemashyuran,atau hal-hal duniawi lainnya.Tetapi ketentraman itu hanya diperoleh dengan zikir kepada Allah.
Ketentraman ada kaitannya dengan keimanan seperti di jelaskan dalam surat Al-fath ayat 4:"Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi[1394] dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana,"(QS 48:4).
Allah swt menurunkan ketentraman kepada hati orang yang beriman.Ketentraman hati itu tampak dari gejala fisik mereka.Ada orang yang bertingkah laku qur'ani dan adapula manusia yang bertingkah laku syaithoni.Orang yang tentram menunjukan prilaku qur'ani.
Manusia adalah makhluk rentan dalam kehidupan.Sesekali atau berkali-kali dalam hidupnya selalu mengalami perubahan.Karena itu memang sudah fitrahnya.Tidak seperti halnya malaikat yang selalu konstan.Di karenakan di belakang kita ada zat yang selalu mengubah itu,yaitu yang di sebut dzat muqollibal quluub(Dzat yang membolak-balikan hati).Perubahan hati itu selalu di iringi dengan karakter perubahan pada hati tiap detiknya.Kondisi hati yang senantiasa berubah ini bukan karena tidak memiliki faktor-faktor tertentu.Ada juga hati berubah karena hati kita di sibukan oleh hal-hal selain Allah swt.Dan yang lebih ironisnya lagi ketika hati sudah melupakan Allah swt sama sekali.Oleh karena itu,untuk menjaga hati agar hati kita selalu hidup,maka ingatlah kepada Allah swt.Dalam salah satu hadis dikatakan,"Kalau hati tidak di isi dengan zikir,maka ia bagaikan bangkai".
Suatu ketika nabi pernah di tanaya tentang apa yang di sebut dengan qolbun salim ini,kemudian Nabi menjawab,"Itu keyakinan agama yang tidak di campuri dengan keragu-raguan hawa nafsu."Mungkin sulit untuk menggambarkan keyakinan itu.Tetapi ,ada penelitian yang mengatakan ,ada dua macam cara beragama,yaitu intrinsik dan ekstrinsik.Ada anggapan,makin bergama orang itu makin sehat jiwanya.Yang harus ditentukan terlebih dahulu adalah tipe orang beragama itu.Kalau beragama di ukur dengan berapa banyak datang ke masjid ,maka keberagamaan tidak menjamin kesehatan jiwa.Karena sering kali orang datang ke masjid dalam penelitian ,bukan karena keyakinan tetapi karena hawa nafsu.Mungkin seseorang dateng ke masjid ingin memperoleh pasangan hidup,ingin mendapat pengakuan sosial,atau menjalin relasi bisnis.
Agama seringkali di pakai sebagai tempat pelarian.Orang lari kepada Agama untuk memperkokoh harga dirinya,ada yang karena frustasi akibat pergumulan hidup.Ia menemukan satu aliran agama yang menawarkan apa yang di carinya.Itu keberagamaan ekstrinsik.Bagaimana beragama yang intrinsik.Rosululloh saw menyebutnya:"Keyakinan yang tidak di masuki hawa nafsu".Beliau bersabda,Qolbun salim adalah keyakinan yang tidak di masuki keraguan dan hawa nafsu."Di sini orang beramal tanpa berkeinginan untuk pamer dan ingin di puji." Allah swt berfirman :"(yaitu) orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah.Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram".(QS 13:28).
Dalam ayat itu disebutkan bahwa cara memperoleh ketentraman hati adalah dengan berzikir kepada Allah,tetapi tidak semua zikir itu menentramkan hati.Karena itu syarat zikir yang dapat menentramkan hati adalah zikir orang yang beriman .Orang yang tidak beriman tidak bisa tentram dalam berzikir .Sebaliknya,orang yang beriman tidak akan tentram hatinya kecuali dengan zikir kepada Allah swt.
Karena itu,kalau anda beriman jangan mencari ketentraman pada kekayaan,kemashyuran,atau hal-hal duniawi lainnya.Tetapi ketentraman itu hanya diperoleh dengan zikir kepada Allah.
Ketentraman ada kaitannya dengan keimanan seperti di jelaskan dalam surat Al-fath ayat 4:"Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi[1394] dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana,"(QS 48:4).
Allah swt menurunkan ketentraman kepada hati orang yang beriman.Ketentraman hati itu tampak dari gejala fisik mereka.Ada orang yang bertingkah laku qur'ani dan adapula manusia yang bertingkah laku syaithoni.Orang yang tentram menunjukan prilaku qur'ani.
tuhan mengabulkan do'a kita
TUHAN MENGABULKAN DO’A KITA
Jika saya merenungi kembali doa-doa yang pernah saya panjatkan. Ternyata, begitu banyak doa yang dikabulkan oleh Tuhan dengan serta merta. Langsung Tuhan berikan tanpa harus menunggu lama. Terutama ketika doa itu berupa sesuatu yang tidak berhubungan dengan material duniawi seperti misalnya kesehatan dan ketenangan. Keberanian. Atau ketegaran hati. Ketika saya bilang; Tuhan, berikan saya kekuatan. Maka saya benar-benar merasa kuat. Tuhan, kumohon ketenangan hati; maka segera saja hati saya merasa tenang. Jujur saja, kadang saya lupa bahwa itu merupakan bentuk pengkabulan langsung dari Tuhan.
Jika kita berdoa biasanya kita mengharapkan doa itu segera dikabulkan, bukan begitu? Bahkan, kita sering berharap agar doa itu langsung dikabulkan tepat disaat kita selesai mengucapkannya. Seketika itu juga. Memang kadang kita ini tidak realistis, sih. Tapi, sebenarnya, berharap agar Tuhan segera mengabulkan doa kita tidaklah berlebihan. Dan memang kenyataannya begitu, kok. Tuhan mengabulkan begitu banyak permintaan kita, dengan segera. Coba saja anda renungkan; kapan terakhir kali anda berdoa dan doa itu langsung dikabulkan Tuhan?
Bukan itu saja, permintaan material pun tak jarang Tuhan segera kabulkan. Alhamdulillah , saya bukan orang yang berlimpah ruah dari sisi materi. Bukan orang kebanyakan uang. Sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup pada taraf yang wajar. (Jangan-jangan, ini merupakan terminologi lain dari kata pas pasan, haha.). Tetapi, saya merasa beruntung berada pada tingkatan status ekonomi yang biasa-biasa saja ini. Sebab, harus saya akui ketika kantong tebal ,sering kita lupa memnta kepada tuhan, Lain sekali ketika dompet sedang benar-benar lepet dan kepepet; dengan Tuhan saya merasa begitu lengket. Sehingga saya merasa berhak untuk meminta kepadaNya. Jadi, Tuhan, saya tidak keberatan jika Engkau terus menerus menempatkan diri saya pada posisi pas-pasan ini. Agar saya tidak terlalu sulit untuk agak lebih sering mendekat padaMu. Untuk meminta tambahan dari kekurang-kekurangan yang kadang-kadang menyesakkan dada. Mbah yayin
Jika saya merenungi kembali doa-doa yang pernah saya panjatkan. Ternyata, begitu banyak doa yang dikabulkan oleh Tuhan dengan serta merta. Langsung Tuhan berikan tanpa harus menunggu lama. Terutama ketika doa itu berupa sesuatu yang tidak berhubungan dengan material duniawi seperti misalnya kesehatan dan ketenangan. Keberanian. Atau ketegaran hati. Ketika saya bilang; Tuhan, berikan saya kekuatan. Maka saya benar-benar merasa kuat. Tuhan, kumohon ketenangan hati; maka segera saja hati saya merasa tenang. Jujur saja, kadang saya lupa bahwa itu merupakan bentuk pengkabulan langsung dari Tuhan.
Jika kita berdoa biasanya kita mengharapkan doa itu segera dikabulkan, bukan begitu? Bahkan, kita sering berharap agar doa itu langsung dikabulkan tepat disaat kita selesai mengucapkannya. Seketika itu juga. Memang kadang kita ini tidak realistis, sih. Tapi, sebenarnya, berharap agar Tuhan segera mengabulkan doa kita tidaklah berlebihan. Dan memang kenyataannya begitu, kok. Tuhan mengabulkan begitu banyak permintaan kita, dengan segera. Coba saja anda renungkan; kapan terakhir kali anda berdoa dan doa itu langsung dikabulkan Tuhan?
Bukan itu saja, permintaan material pun tak jarang Tuhan segera kabulkan. Alhamdulillah , saya bukan orang yang berlimpah ruah dari sisi materi. Bukan orang kebanyakan uang. Sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup pada taraf yang wajar. (Jangan-jangan, ini merupakan terminologi lain dari kata pas pasan, haha.). Tetapi, saya merasa beruntung berada pada tingkatan status ekonomi yang biasa-biasa saja ini. Sebab, harus saya akui ketika kantong tebal ,sering kita lupa memnta kepada tuhan, Lain sekali ketika dompet sedang benar-benar lepet dan kepepet; dengan Tuhan saya merasa begitu lengket. Sehingga saya merasa berhak untuk meminta kepadaNya. Jadi, Tuhan, saya tidak keberatan jika Engkau terus menerus menempatkan diri saya pada posisi pas-pasan ini. Agar saya tidak terlalu sulit untuk agak lebih sering mendekat padaMu. Untuk meminta tambahan dari kekurang-kekurangan yang kadang-kadang menyesakkan dada. Mbah yayin
Langganan:
Postingan (Atom)