Cari Blog Ini

Selasa, 09 Agustus 2011

Prinsip Islam Bersuci Adalah Separoh Iman & Syarat Sahnya Shalat



Kita meyakini bahwa bersuci merupakan separoh dari iman. Allah tidak akan menerima shalat seseorang tanpa bersuci. Sedangkan thaharah (bersuci) dari hadats kecil bisa dengan berwudhu’. Sedangkan dari hadats besar dengan mandi. Dan apabila tidak ditemukan air secara hakiki (tidak ada air) atau secara hukmi (karena tidak bisa menggunakan air), maka cukup dengan tayammum.

Allah telah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya,

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“Dan pakaianmu, maka bersihkanlah!” (QS. Al-Mudatsir: 4)

Adalah orang-orang musyrik tidak menjaga kebersihan (bersuci), lalu Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk membersihkan diri dan membersihkan bajunya. Sebagian pendapat mengatakan bahwa maksud “thaharah” tersebut adalah dari dosa-dosa dan kesalahan. Namun, secara dzahir ayat tersebut mencakup keduanya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Bersuci itu separoh keimanan” (HR. Muslim), maksudnya puncak pahalanya dilipatgandakan sampai setengah pahala iman. Ada yang mengatakan, maknanya iman menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu, begitu juga wudhu. Sebabnya, karena wudhu tidak sah tanpa iman. Karena harus dengan iman inilah disebut sebagai separoh darinya. Dan masih ada beberapa pendapat lain mengenai hadits ini.

Allah telah memuji jama’ah masjid Qubba’ karena mereka suka menjaga kebersihan (kesucian). Allah Ta’ala berfirman,

فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

“Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. Al-Taubah: 108). Bersuci yang Allah puji dalam ayat ini adalah karena mereka beristinja’ dengan air sebagaimana yang telah dijelaskan dengan gamblang oleh beberapa hadits.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah masuk kamar kecil, lalu aku dan seorang anak kecil membawakan satu wadah berisi air dan sebuah tongkat. Maka beliau beristinja’ (bercebok) dengan air.” Dan dalam riwayat lain, “Apabila Nabi shallallahu 'alaihi wasallam buang air besar maka saya membawakan air untuknya, lalu beliau beristinja’ dengannya.” (HR. Al-Bukhari)

Dan tentang disyariatkannya beristinja’ dengan batu (istijmar) ditunjukkan oleh hadits Aisyah radhiyallahu 'anha, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِذَا ذَهَبَ أَحَدُكُمْ لِحَاجَتِهِ فَلْيَسْتَطِبْ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ فَإِنَّهَا تُجْزِئُهُ عَنْهُ

“Apabila salah seorang kalian pergi ke kakus (WC), maka hendaknya dia membersihkan (beristinja’) dengan tiga batu, maka itu sudah mencukupkannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Nasai)

Dan tentang adab-adab buang air telah dijelaskan oleh hadits Salman, “Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang kami bercebok dengan tangan kanan, bercebok kurang dari tiga batu dan bercebok dengan kotoran hewan atau tulang.” (HR. Muslim)

Terlebih lagi, Islam menjadikan bersuci sebagai kunci shalat dan syarat sahnya. Shalat tidak akan pernah diterima tanpa bersuci. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda

مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

“Kunci shalat adalah bersuci, tahrim (pembuka)nya adalah takbir, dan tahlil (penutup)nya adalah salam.” (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةً بِغَيْرِ طُهُورٍ

“Allah tidak menerima shalat seseorang tanpa bersuci.” (Muttafaq ‘alaih)

لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Tidak akan diterima shalat seseorang yang berhadats sehingga dia berwudhu.” (Mutaafaq ‘alaih)

Thaharah dari hadats besar dan kecil

Allah menyebutkan dua macam thaharah (bersuci) dari hadats asghar (kecil) dan akbar (besar). Juga meyebutkan cara pengganti jika tidak mampu menggunakan air. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Maidah: 6)

Tentang tata cara wudhu, telah ditunjukkan oleh hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Beliau pernah berwudhu’, maka beliau membasuh mukanya. Lalu mengambil seciduk air lalu berkumur-kumur dan beristinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) dengannya. Lalu mengambil seciduk air –beliau mengabungkannya dengan tangannya yang satu (kiri)- lalu mencuci wajahnya. Lalu mengambil seciduk air dan menggunakannya untuk mencuci tangan kanannya. Lalu mengambil seciduk air dan menggunakannya untuk mencuci tangan kirinya. Kemudian mengusap kepalanya. Kemudian mengambil seciduk air dan memercikkan air (sedikit demi sedikit) ke kaki kanannya sehingga membasahinya. Kemudian mengambil seciduk lagi dan membasahi kaki kirinya. Kemudian beliau radhiyallahu 'anhumai berkata, “Beginilah aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwudhu.” (HR. al-Bukhari)

Dan juga hadits Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, beliau minta diambilkan air wudhu lalu berwudhu. Beliau mencuci kedua telapak tangannya tiga kali, lalu berkumur-kumur dan beristintsar (menyemprotkan air lewat hidung). Kemudian beliau membasuh mukanya tiga kali, lalu membasuh tangan kanannya sampai ke siku tiga kali, lalu mencuci tangan kirinya seperti itu. Kemudian mengusap kepalanya. Kemudian membasuh kaki kanannya sampai kedua mata kakinya tiga kali, lalu mencuci kaki kirinya seperti itu. Kemudian beliau berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwudhu seperti wudhuku ini. Kemudian beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

‘Siapa berwudhu seperti wudhuku ini, lalu berdiri shalat dia rakaat dan jiwanya tidak disibukkan selain shalat maka diampuni dosa-dosanya yang lalu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun tatacara mandi dijelaskan oleh hadits ‘Aisyah radhiyallahu 'anha,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي الْمَاءِ فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

“Bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam apabila mandi janabat, beliau memulai mencuci kedua tangannya. Lalu berwudhu sebagaimana sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau memasukkan jari-jari tangannya ke dalam air, lalu menyela-nyela pangkal rambut kepalanya. Setelah itu beliau menyiram kepalanya tiga kali dengan air sepenuh dua telapak tangannya, lalu meratakannya ke seluruh tubuh.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Mandi semacam ini merupakan tata cara mandi yang sempurna. Kalau dia membasahi seluruh badannya dengan air dengan cara apapun maka sudah mencukupi. Imam Syafi’i rahimahullaah berkata, “Allah mewajibkan mandi secara mutlak, tidak menyebutkan sesuatu yang harus didahulukan sebelum yang lain. Maka bagaimanapun cara mandi yang dilakukan seseorang, maka sudah cukup (boleh dan sah) apabila ia membasahi seluruh tubuhnya. Dan cara terbaik dalam mandi adalah (mengikuti) apa yang diriwayatkan ‘Aisyah.”

Dan cara mandi juga dijelaskan oleh hadits Maimunah –istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam- berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat kecuali membasuh kedua kakinya, mencuci kemaluannya dan tempat yang terkena kotoran (mani). Lalu beliau menuangkan air ke tubuhnya, lalu menggeser kedua kakinya dan mencucinya. Inilah cara mandi janabat beliau shallallahu 'alaihi wasallam.” (HR. al-Bukhari)

Tidak diragukan lagi bahwa membasuh kemaluan itu sebelum wudhu, karena huruf “wawu (yang artinya dan- red)” tidak menuntut urut. Dan tentang mengakhirkan mencuci kedua kaki dalam mandi adalah persoalan khilaf yang sudah masyhur.

Dan tentang tata cara tayammum juga telah diriwayatkan oleh al-Bukhari. Ada seseorang datang kepada Umar bin Khathab, lalu berkata, “Aku telah junub, dan –sampai sekaranng- tidak mendapatkan air.” Maka Amar bin Yasir berkata kepada Umar bin Khathab, “Tidakkah engkau ingat! Saat kita, saya dan kamu bersama-sama dalam safar?. Adapun engkau tidak shalat, sedangkan aku berguling-guling di atas tanah lalu shalat. Kemudian aku melaporkannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, “Adalah cukup bagimu seperti ini.” Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menepukkan kedua telapak tanganya ke tanah, lalu meniup keduanya, lalu mengusapkan keduanya pada muka dan kedua telapak tangannya.”

* Diterjemahkan oleh Badrul Tamam dari kitab Maa Laa Yasa’ al-Muslima Jahluhu, DR. Abdullah Al-Mushlih dan DR. Shalah Shawi.

Kamis, 04 Agustus 2011

khotbah baginda rasululloh saw menjelang romadhon

Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kamu sekalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat dan maghfirah (keampunan). Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. saat demi saatnya adalah saat-saat paling utama. Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu adalah ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doamu dimakbulkan.

Bermohonlah kepada Allah Rabbmu, dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan puasa dan membaca kitab-Nya. Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari Kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin.
Muliakanlah orang-orang tuamu, sayangilah yang muda, eratkanlah tali persudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya, dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya.

Kasihanilah anak-anak yatim, niscaya kamu akan dikasihi manusia. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu solatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih;


Dia menjawab kepada hanba Nya ketika mereka menyeru-Nya, Dia menyambut hamba Nya, ketika mereka memanggil-Nya, dan Dia mengabulkan permintaan hamba Nya, ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia!
Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu. Iaitu memperbanyakan solat sunat ( diantaranya solat sunat Tarawih).

Ketahuilah! Allah ta'ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbul 'Alamin. ( iaitu di hari kiamat nanti).

Wahai manusia!
Barangsiapa di antaramu memberi makanan untuk berbuka puasa kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ramadhan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang hamba sahaya, dan ia diberi ampunan atas dosa-dosanya yang lalu.
(Sahabat- sahabat bertanya, " Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian." Rasulullah Menjawab Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya bersedekah dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya bersedekah dengan seteguk air.

Wahai manusia!
Barang siapa yang mempercantikkan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati jambatan sirathal mustaqin, yang pada hari ketika itu, banyak kaki-kaki tergelincir.
Barangsiapa yang meringankan pekerjaan pegawai atau pembantunya atau hambanya di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari Kiamat.

Barangsiapa menahan keburukkannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakannya pada hari ia berjumpa dengan-nya.

Barangsiapa menyambungkan tali persudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini ( seperti solat sunat tarawikh) , Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka.

Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa pada bulan ini membaca satu ayat Al-Qur’an, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Qur'an pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia!
Sesungguhnya pintu-pintu syurga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak akan pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Syaitan-syaitan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Ali bin Abi Thalib r.a. berdiri dan berkata,"Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ramadhan ini? " Jawab Baginda, “Ya abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah."

Sidang Jumaat yang berbahagian begitulah sebahagian isi khutbah Rasulullah menjelang kedatangannya bulan suci ramadhan, penuh dengan pengajaran, sarat dengan nasihat, mengobarkan semangat beramal ibadah serta motifasi supaya umatnya menggunakan peluang dan kesempatan yang ada di bulan Ramadhan, mari kita rebut peluang dan kesempatan yang baik ini, semoga kita di beri kekuatan Iman kesehatan badan untuk melakukannya. Amin.



Khutbah ke 2.

Muqaddimah….

Sidang jumaat yang berbahagia mari kita perhatikan Sabda Rasulullah SAW.

Kalaulah umatku tahu akan kebaikan , peluang dan kesempatan di bulan Ramadhan , niscaya ummatku akan menginginkan ramadhan itu satu tahun . kerana kebaikannya di lipat gandakan, dosa diampunkan, doa di kabulkan, dan syurga merindukan orang yang sedang berpuasa.


Syurga merindukan kepada 4 golongan manusia, iaitu yang membaca Al- Quran, yang memberi makan kepada yang berpuasa, yang menjaga lisan dan yang berpuasa di bulan ramadhan,

Senin, 25 Juli 2011

Tanda Seseorang Cinta Kepada Allah

Cinta adalah sebuah kata yang memiliki sejuta makna dari mereka yang sedang mengalaminya. Cinta lahir sebagai wujud kasih sayang Tuhan kepada makhluk-Nya. Jadi bisa dikatakan bahwa cinta itu anugerah dari Sang Maha Pecinta. Namun sudahkah kita cinta kepada Dzat yang memberikan anugerah cinta? Berikut ini adalah tanda-tanda dari seseorang yang cinta kepada Allah atas anugerah cinya yang dikaruniakanNya;


1. Katsrah Adz-Dzikir (banyak berdzikir)
Hadith : Dari Abu Darda ra berkata Rasulullah SAW bersabda : "Allah benar-benar akan membangkitkan segolongan manusia pada hari kiamat, di wajah mereka ada cahaya dan mereka berada di atas mimbar-mimbar dari mutiara. Mereka itu bukan para nabi dan syuhada tapi manusia iri kepadanya." Ada seorang arab yang berdiri di atas lututnya dan bertanya :"Wahai Rasulullah, beritahukanlah sifat-sifat mereka agar kami mengenal mereka." Beliau menjawab: "Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, berasal dari kabilah yang berbeza, dari negeri yang berbeza, mereka berkumpul untuk berdzikir kepada Allah". (Riwayat Ath-Thabrani).

2. Al-I’jaab (kagum)
Dalam hubungan cinta kepada Allah, kita sentiasa mengagumi ke-Maha Besar-an Allah SWT misalnya lewat ciptaanNya yang beraneka ragam bentuk.

3. Ar-Ridhaa (rela)
Rela meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan menjalankan apa yang diperintahkanNya, meski itu tidak enak. Dan yakinlah bahwa apa yang dilarang Allah pasti ada sebabnya. Ciri cinta yang lain adalah ketika hati kita rela dengan yang dicintai dan juga rela berkorban bagi yang dicintainya. "Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal Allah dan rasul-Nya Itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin". (QS At Taubah :62)

4. At-Tadhhiyah (siap berkorban/pengorbanan)
Pengorbanan kita kepada Allah ditunjukkan dengan apa? Apakah kita sudah berqurban? Contoh kisah pengorbanan ini adalah kisah Nabi Ibrahim ketika diminta menyembelih anaknya Nabi Ismail. Sekarang kembali lagi kepada kita, sudahkah kita berkorban baik itu jiwa, raga maupun harta di jalan Allah. Karena mencintai Allah dan Rasul-Nya akan melahirkan sikap rela berkorban karena berkorban adalah konsekuensi dari rasa cinta kepada sesuatu. "Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya".(QS Al Baqarah:207)

5. Al-Khauf (takut)
Takut disini adalah takut hanya kepada Allah. Tidak ada yang lain.. Ketika menghadapi kemungkaran janganlah kita takut untuk menghadapinya. Takutlah hanya kepada Allah dan hadapilah itu baik dengan lisan maupun dengan tangan. Contoh lainnya adalah takut kepada Allah kerana mempunyai harapan agar mengabulkan doa kita dan kerananya kita senantiasa merasa cemas apakah Allah mengabulkan doa kita.

6. Ar-Rajaa (mengharap/ penuh harapan)
Cinta juga diwujudkan dalam bentuk mengharap kepada sesuatu yang dicintainya tersebut. Harapan kepada Allah melalui doa biasanya dilakukan kerana ada sesuatu keinginan yang perlu disampaikan kepada yang dicintai yaitu Allah. Misalnya adalah mengharap rizki yang cukup dan barokah.

7. Ath-Thaa’ah (mentaati)
Mentaati yang dicintai juga adalah bukti cinta kita kepada Allah SWT. Kecintaan kita kepada Allah haruslah membawa kita pada ketaatan kepada-Nya. Rela meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan menjalankan apa yang diperintahkanNya..