Cari Blog Ini

Sabtu, 23 April 2011

keutamaan menuntut ilmu dalam islam

Keutamaan Menuntut Ilmu

Sesungguhnya Islam adalah agama yang menghargai ilmu pengetahuan. Bahkan Allah sendiri lewat Al Qur’an meninggikan orang-orang yang berilmu dibanding orang-orang awam beberapa derajad.

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajad.” (Al Mujadilah: 11)

Pada surat Ali ‘Imran: 18 Allah SWT bahkan memulai dengan dirinya, lalu dengan malaikatnya, dan kemudian dengan orang-orang yang berilmu. Jelas kalau Allah menghargai orang-orang yang berilmu.

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)” (Ali Imran:18)

Allah juga menyatakan bahwa hanya dengan ilmu orang bisa memahami perumpamaan yang diberikan Allah untuk manusia.

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tiada memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” (Al ‘Ankabut:43)

Tuhan juga menegaskan hanya dengan ilmulah orang bisa mendapat petunjuk Al Qur’an.

“Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat2 yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu” (Al Ankabut:49)

Nabi Muhammad SAW juga sangat menghargai orang yang berilmu. “Ulama adalah pewaris para Nabi” Begitu sabdanya seperti yang dimuat di HR Abu Dawud.

Bahkan Nabi tidak tanggung2 lebih menghargai seorang ilmuwan daripada satu kabilah. “Sesungguhnya matinya satu kabilah itu lebih ringan daripada matinya seorang ‘alim.” (HR Thabrani)

Seorang ‘alim juga lebih tinggi dari pada seorang ahli ibadah yang sewaktu2 bisa tersesat karena kurangnya ilmu. “Keutamaan orang ‘alim atas orang ahli ibadah adalah seperti keutamaan diriku atas orang yang paling rendah dari sahabatku.” (HR At Tirmidzi).

Nabi Muhammad mewajibkan ummatnya untuk menuntut ilmu. “Menuntut ilmu wajib bagi muslimin dan muslimah” begitu sabdanya. “Tuntutlah ilmu dari sejak lahir hingga sampai ke liang lahat.”

Jelas Islam menghargai ilmu pengetahuan dan mewajibkan seluruh ummat Islam untuk mempelajarinya. Karena itu pendapat mayoritas ummat Islam (terutama di pedesaan) yang menganggap bahwa perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi2, soalnya nanti tinggalnya juga di dapur jelas bertentangan dengan ajaran Islam.

Selain itu Nabi juga menyuruh agar ummat Islam menuntut ilmu berkelanjutan hingga ajalnya. Karena itu seorang muslim haruslah berusaha belajar setinggi2nya. Jangan sampai kalah dengan orang kafir. Ummat Islam jangan cuma mencukupkan belajar sampai SMA saja, tapi berusahalah hingga Sarjana, Master, bahkan Doktor jika mampu. Jika ada yang tak mampu secara finansial, adalah kewajiban kita yang berkecukupan untuk membantunya jika dia ternyata adalah orang yang berbakat.

Sekarang ini, tingkat pengetahuan ummat Islam malah kalah dibandingkan dengan orang-orang kafir. Ternyata justru orang-orang kafir itulah yang mengamalkan ajaran Islam seperti kewajiban menuntut Ilmu setinggi2nya. Jarang kita menemukan ilmuwan di antara ummat Islam. Sebaliknya, tingkat buta huruf sangat tinggi di negara2 Islam.

Hal itu jelas menunjukkan bahwa kemunduran ummat Islam bukan karena ajaran Islam, tapi karena ulah ummat Islam sendiri yang tidak mengamalkan perintah agamanya. Ayat pertama dalam Islam adalah “Iqra!” Bacalah! Di situ Allah memperintahkan ummat Islam untuk membaca, tapi ternyata tingkat buta huruf justru paling tinggi di negara2 Islam. Ini karena kita tidak konsekwen dengan ajaran Islam.

Nabi juga mengatakan, bahwa ilmu yang bermanfaat akan mendapat pahala dari Allah SWT, dan pahalanya berlangsung terus-menerus selama masyarakat menerima manfaat dari ilmunya..

“Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga, yaitu ilmu yang bermanfaat….”(HR Muslim)

Pada awal masa Islam, ummat Islam melaksanakan ajaran tsb dengan sungguh2. Mereka giat menuntut ilmu. Hadits2 seperti “Siapa yang meninggalkan kampung halamannya untuk mencari pengetahuan, ia berada di jalan Allah”, “Tinta seorang ulama adalah lebih suci daripada darah seorang syahid (martir)”, memberikan motivasi yang kuat untuk belajar.

Ummat Islam belajar dari orang Cina teknik membuat kertas. Pabrik kertas pertama didirikan di Baghdad tahun 800, dan perpustakaan pun tumbu dengan subur di seluruh negeri Arab (baca: Islam) yang dulu dikenal sebagai bangsa nomad yang buta huruf dan cuma bisa mengangon kambing.

Direktur observatorium Maragha, Nasiruddin At Tousi memiliki kumpulan buku sejumlah 400.000 buah. Di Kordoba (Spanyol) pada abad 10, Khalifah Al Hakim memiliki suatu perpustakaan yang berisi 400.000 buku, sedangkan 4 abad sesudahnya raja Perancis Charles yang bijaksana (artinya: pandai) hanya memiliki koleksi 900 buku. Bahkan Khalifah Al Aziz di Mesir memiliki perpustakaan dengan 1.600.000 buku, di antaranya 16.000 buah tentang matematika dan 18.000 tentang filsafat.

Pada masa awal Islam dibangun badan2 pendidikan dan penelitian yang terpadu. Observatorium pertama didirikan di Damaskus pada tahun 707 oleh Khalifah Amawi Abdul Malik. Universitas Eropa 2 atau 3 abad kemudian seperti Universitas Paris dan Univesitas Oxford semuanya didirikan menurut model Islam.

Para ilmuwan Islam seperti Al Khawarizmi memperkenalkan “Angka Arab” (Arabic Numeral) untuk menggantikan sistem bilangan Romawi yang kaku. Bayangkan bagaimana ilmu Matematika atau Akunting bisa berkembang tanpa adanya sistem “Angka Arab” yang diperkenalkan oleh ummat Islam ke Eropa. Kita mungkin bisa menuliskan angka 3 dengan mudah memakai angka Romawi, yaitu “III,” tapi coba tulis angka 879.094.234.453.340 ke dalam angka Romawi. Bingungkan? Jadi para ahli matematika dan akuntan haruslah berterimakasih pada orang-orang Islam, he he he..:) Selain itu berkat Islam pulalah maka para ilmuwan sekarang bisa menemukan komputer yang menggunakan binary digit (0 dan 1) sebagai basis perhitungannya, kalau dengan angka Romawi (yang tak mengenal angka 0), tak mungkin hal itu bisa terjadi.

Selain itu Al Khawarizmi juga memperkenalkan ilmu Algorithm (yang diambil dari namanya) dan juga Aljabar (Algebra).

Omar Khayam menciptakan teori tentang angka2 “irrational” serta menulis suatu buku sistematik tentang Mu’adalah (equation).

Di dalam ilmu Astronomi ummat Islam juga maju. Al Batani menghitung enklinasi ekleptik: 23.35 derajad (pengukuran sekarang 23,27 derajad).

Dunia juga mengenal Ibnu Sina (Avicenna) yang karyanya Al Qanun fit Thibbi diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerard de Cremone (meninggal tahun 1187), yang sampai zaman Renaissance tetap jadi textbook di fakultas kedokteran Eropa.

Ar Razi (Razes) adalah seorang jenius multidisiplin. Dia bukan hanya dokter, tapi juga ahli fisika, filosof, ahli theologi, dan ahli syair. Eropa juga mengenal Ibnu Rusyid (Averroes) yang ahli dalam filsafat.

Dan masih banyak lagi kemajuan yang dicapai oleh ummat Islam di bidang ilmu pengetahuan. Ketika terjadi perang salib antara raja Richard the Lion Heart dan Sultan Saladdin, boleh dikata itu adalah pertempuran antara bangsa barbar dengan bangsa beradab. Raja Richard yang terkenal itu ternyata seorang buta huruf, (kalau rajanya buta huruf, bagaimana rakyat Eropa ketika itu) sedangkan Sultan Saladin bukan saja seorang yang literate, tapi juga seorang ahli di bidang kedokteran. Ketika raja Richard sakit parah dan tak seorangpun dokter ahli Eropa yang mampu mengobatinya, Sultan Saladin mempertaruhkan nyawanya dan menyelinap di antara pasukan raja Richard dan mengobatinya. Itulah bangsa Islam ketika itu, bukan saja pintar, tapi juga welas asih. Jika kita menonton film Robin Hood the Prince of Thieves yang dibintangi Kevin Kostner, tentu kita maklum bagaimana Robin Hood terkejut dengan kecanggihan teknologi bangsa Moor seperti teropong.

Tapi itu sekarang tinggal sejarah. Ummat Islam sekarang tidak lagi menghargai ilmu pengetahuan tak heran jika mereka jadi bangsa yang terbelakang. Hanya dengan menghidupkan ajaran Islam-lah kita bisa maju lagi.

Ummat Islam harus kembali giat menuntut ilmu. Menurut Al Ghazali, sesungguhnya menuntut ilmu itu ada yang fardu ‘ain (wajib bagi setiap Muslim) ada juga yang fardu kifayah (paling tidak ada segolongan ummat Islam yang mempelajarinya.

Ilmu agama tentang mana yang wajib dan mana yang halal seperti cara shalat yang benar itu adalah wajib bagi setiap muslim. Jangan sampai ada seorang ahli Matematika, tapi cara shalat ataupun mengaji dia tidak tahu. Jadi ilmu agama yang pokok agar setiap muslim bisa mengerjakan 5 rukun Islam dan menghayati 6 rukun Iman serta mengetahui kewajiban dan larangan Allah harus dipelajari oleh setiap muslim. Untuk apa kita jadi ahli komputer, kalau kita akhirnya masuk neraka karena tidak pernah mengetahui cara shalat?

Adapun ilmu yang memberikan manfaat bagi ummat Islam seperti kedokteran yang mampu menyelamatkan jiwa manusia, ataupun ilmu teknologi persenjataan seperti pembuatan tank dan pesawat tempur agar ummat Islam bisa mempertahankan diri dari serangan musuh adalah fardu kifayah. Paling tidak ada segolongan muslim yang menguasainya.

Semoga kita semua bisa mengamalkan ajaran Islam dan bisa menegakkan kalimah Allah.

Islam dan Fisika

Islam dan Fisika
oleh Ferri Mustika pada 06 April 2011 jam 13:24

Kaum muslimin meyakini bahwa semua ilmu pengetahuan berasal dari Allah. dan Al-Qur'an merupakan Kalamullah. Pengetahuan tentang zat, energi, ruang waktu dan interaksi benda-benda di alam ini sering disebut dengan fisika.



Para fisikawan Muslim di masa keemasan Islam adalah orang-orang yang dididik dari awal dengan aqidah Islam,rata2 mereka hapal Qur'an sebelum baligh.Mereka sangat memahami bahwa alam memiliki hukum-hukumnya yang obyektif, yang dapat terungkap sendiri pada mereka yag sabar melakukan pengamatan dan penelitian dengan sangat cermat.



Ibnu Al-Haytsam (al-Hazen) adalah pioner modern ketika menerbitkan bukunya pada tahun 1021 M. Dia menemukan bahwa proses melihat adalah jatuhnya cahaya ke mata, bukan karena sorot mata sebagaimana diyakini orang sejak zaman Aristoteles.Dalam kitabnya Al-Haytsam menunjukkan berbagai cara untuk membuat teropong dan juga kamera sederhana (Camera obscura).



Perlu diketahui bahwa Al-Haytsam melakukan eksperimen optiknya pada saat ia mengalami tahanan rumah, setelah gagal memenuhi tugas Amir Mesir untuk mewujudkan proyek bendungan sungai Nil.Dia baru dilepas setelah penemuan optiknya dinilai impas untuk investasi yg telah dikeluarkan sang Amir.



Ibn al-Haytsam juga memulai suatu tradisi metode ilmiah untuk menguji sebuah hipotesis, 600 tahun mendahului Rene Descartes yg dianggap bapak metode ilmiah eropa di zaman rennaisance.Metode ilmiah Ibn al-haytsam dimulai dari pengamatan empiris, perumusan masalah, formulasi hipotesisi, uji hipotesis, dgn eksperimen, analisis hasil eksperimen,interprestasi data dan formulasi kesimpulan, dan diakhiri dengan publikasi.



Publikasi kemudaian dinilai dengan peer-review yg memungkinkan setiap orang melacak dan bila perlu mengulangi apa yg dikerjakan seorang peneliti.Proses peer review telah mjd tradisi dalam dunia medis sejak Ishaq bin Ali al Rahwi (854-931 M)



Abu Ali al-Husayn ibn Abdallah ibn Sina (980-1037 M) Ahli pengobatan islam yang fenomenal. Usia 10 th khatam Qur’an. Usia 16 dikenal ahli dalam bidang sains, juga bidang mathematics, geometry, islamic law,logic philosophy, dan metaphysicis. Pada Usia 18 memperdalam ilmu kedokteran. Menulis 100 buku mulai usia 21, dimana 16Menulis 100 buku mulai usia 21, dimana 16 buah diantaranya tentang ilmu pengobatan. Kitab al-Qanun fi al-Tibb’ atau The Canon of medicine adalah buku pengobatan klasik karyanya yang terkenal. Beliau setuju bahwa kecepatan cahaya pasti terbatas.Abu Rayhan al-Biruni (973-1048) juga menemukan bahwa cahaya jauh lebih cepat dari suara. Qutubuddin al-Syirazi (1236-1320) dan Kamaluddin al-Farisi (1260-1320) memberi penjelasan pertama yang benar pada fenomena pelangi

Bidang Mekanika



Al-Shaykh Ra’is al-A’mal Badi’ al-Zaman Abu al-‘Izz ibn Isma’il ibn al-Razzaz al-Jazari. Tiga kata nama depannya berarti: chief engineer (Ra’is al-A’mal), unique and unrivalled (Badi’ al-Zaman), dan indicating that he was a learned and a dignified person (al-shaykh). Penulis buku al-Jami’ bayn al-’ilm wa ‘amal, al-nafi’ fisina’ at al-hiyal atau A Compendium on the Theory and Practice of the Mechanical Artsand Practice of the Mechanical Arts (602 H). Kemudian dialih bahasakan menjadi Book of Knowledge of Mechanical Devices, yang terdiri dari 6 katagori, yaitu: 1) ten water and candle clocks; 2), ten vessels and figures suited for drinking sessions; 3),ten pitchers and basins for phlebotomy (faṣd ) and washing before prayers; 4), ten fountains that change their shape alternately, and machines for the perpetual flute; 5), five water raising machines; 6),five miscellaneous devices.

Mendesain dan membuat Water Clocks, sehingga mampu mensuplai air bersih dari Nahr Yazid di Damascus ke Masjid Ibn al-‘Arabi. Mesin ini masih bisa dilihat sampai sekarang.



Akankah di Era modern ini akan muncul kembali Fisikawan Muslim yang fenomenal ?

Sabtu, 16 April 2011

Keutamaan Mendalami Ilmu Agama

Abdullah bin Mas'ud Radiallahu'anhu: "Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid'ah."

Keutamaan Mendalami Ilmu Agama
Diposkan oleh SUPRIYONO di 11:43 Label: Tholabul iLmi

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammadshalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.

Sesungguhnya mempelajari ilmu agama (tafaqquh fiddin) termasuk amalan yang paling utama dan termasuk tanda kebaikan pada seseorang. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ

“Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, Maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” [2]

Karena dengan mendalami ilmu agama akan mengantarkan kita kepada ilmu yang bermanfaat, di mana setiap amalan shalih dibangun di atas ilmu. Allah ta’alaberfirman :

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيداً

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS. Al Fath: 28)

Yang dimaksud dengan “huda” adalah ilmu yang bermanfaat dan “din al haq”adalah amal shalih.

Allah ta’ala telah memerintahkan nabiNya untuk berdoa memohon tambahan ilmu, sebagaimana firmanNya,

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْماً

“ dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan."(QS. Thaha: 114)

Al hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata : Firman Allah azza wa jalla وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْماً sangat jelas menunjukkan tentang keutamaan ilmu. Karena Allah tidak pernah memerintahkan nabiNya untuk meminta (berdoa) atas tambahan sesuatu kecuali ilmu. [3]

Majelis yang didalamnya dipelajari ilmu yang bermanfaat Rasulallah namakan dengan taman surga atau “raudhatul jannah” dan mengatakan bahwa para ulama’nya merupakan pewaris para nabi.

Kenapa kita perlu belajar?
Tidak diragukan lagi ketika seseorang hendak melakukan suatu pekerjaan, apapun itu, maka sudah seharusnya ia mengetahui bagaimana cara mengerjakan pekerjaan itu dengan cara yang benar ( misal seseorang ingin membuat donat, maka pertama kali ia harus belajar bagaimana cara membuat donat yang benar). Sehingga dengan itu ia dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan benar. Maka, bagaimana mungkin seseorang mempersembahkan suatu ibadah kepada Allah – yang mana berharap agar ibadahnya diterima sehingga dapat menjauhkan dari neraka dan memasukkan kedalam surga – namun saat mengerjakan ibadah tersebut tanpa didasari ilmu ?? Apakah mungkin ibadahnya diterima?? Padahalsyarat diterimanya amalan ada dua yaitu sesuai dengan tuntunan syariat dan ikhlash. Sedangkan untuk mengerjakan amalan supaya sesuai dengan tuntunan syaria’at dibutuhkan ilmu.

Ada tiga golongan manusia jika ditinjau dari ilmu dan amal:
Golongan pertama, yaitu golongan yang memadukan antara ilmu dan amal. Mereka adalah orang-orang yang telah Allah beri petunjuk untuk mengikuti jalannya orang-orang mendapat nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. [4]

Golongan yang kedua, orang-orang yang mempelajari ilmu namun tidak mengamalkannya. Mereka adalah orang-orang yang dimurkai seperti orang-orang yahudi dan yang semisalnya.

Golongan yang ketiga, orang-orang yang beramal tanpa ilmu. Dan mereka adalah orang-orang yang tersesat seperti orang-orang nashrani dan yang semisalnya.

Ketiga golongan tersebut disebutkan dalam surat Al fatihah. Surat ini dibaca dalam setiap rekaat shalat-shalat kita, Allah berfirman :

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. “ (QS. Al-Fatihah: 6-7)

Syaikh imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, adapun firman Allah غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ “yang dimurkai” adalah para ahli ilmu yang tidak mengamalkan ilmunya, “yang tersesat” yaitu orang-orang yang beramal tanpa ilmu. Sifat yang pertama المَغضُوبِ atau “yang dimurkai” merupakan sifat orang yahudi. Sifat yang kedua الضَّالِّينَ atau “yang tersesat” merupakan sifat orang nashrani.

Kebanyakan manusia jika melihat ke tafsir -bahwa orang yang dimurkai adalah yahudi dan orang yang sesat adalah nashrani- menyangka bahwa itu hanya sifat khusus bagi mereka (yahudi dan nashrani) saja. Padahal mereka mengakui bahwa Allah memerintahkan mereka untuk senantiasa berdo’a dengan do’a ini (Al-Fatihah ayat 6-7 ) agar dijauhkan dari jalannya orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut. Subhannallah! Bagaimana mungkin Allah mengajarkan, memilihkan, serta mewajibkan untuk senantiasa berdo’a dengan doa tersebut sedangkan mereka mengira tidak diperingatkan dari sifat-sifat tersebut ..?? [5]

Itulah hikmah mengapa kita diwajibkan membaca surat yang agung ini -yakni surat Al-Fatihah- dalam setiap rekaat baik dalam shalat fardhu maupun nafilah. Hal ini tidak lain karena didalamnya terkandung rahasia yang sangat agung, yaitu adanya lafadz do’a di atas. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengikuti jalannya orang-orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan beramal shalih, itulah jalan kesuksesan di dunia maupun di akhirat. Semoga kita dijauhkan dari jalannya orang-orang yang celaka yaitu orang-orang yang berilmu namun tidak mengamalkannya atau sebaliknya beramal namun tanpa didasari ilmu.

Ketahuilah bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bersandar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dengan memahami dan mentadabburi keduanya (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Tentunya juga dengan bantuan penjelasan dari para ulama rabbani maupun dari kitab-kitab tafsir Al-Qur’an , syarah hadist, kitab fikih, serta kitab nahwu dan bahasa arab, di mana Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa arab. Semua kitab-kitab tersebut merupakan jalan untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Wahai saudaraku tercinta, supaya amalan kita benar dan sesuai syariat maka wajib bagi kita untuk mempelajari apa-apa yang berkaitan dengan agama kita baik berupa shalat, puasa, zakat maupun amalan yang lainnya. Hendaknya kita juga mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan muammalah sehingga kita mengetahui apa saja yang diperbolehkan dan dilarang. Dengan demikian penghasilan yang kita dapatkan halal, begitu juga dengan harta kita sehingga do’a kita didengar (karena salah satu penyebab tidak dikabulkannya do’a adalah memakan harta yang tidak halal).

Bagaiman cara untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat?
Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, diantaranya: Pertama , rajin membaca kitab-kitab yang bermanfaat. Kedua, dekat dengan para ulama atau ahli ilmu. Sehingga kita dapat bertanya tentang masalah syariat apa yang tidak kita fahami. Dan juga kita dapat mengambil ilmu dari para ulama sehingga terhindar dari pemahaman yang salah. Ketiga, menghadiri majelis ilmu baik di masjid-masjid maupun yang selainnya. Kempat, mendengarkan ceramah lewat radio dan yang lainnya. Alhamdulillah sekarang sudah banyak mengudara radio-radio yang menyiarkan program-progam yang bermanfaat sehingga memudahkan kita mendengarkan ceramah dan yang lainnya di mana pun kita berada.

Jangan lupa wahai saudaraku, sesungguhnya ilmu itu tumbuh dan berkembang dengan amal. Kalau kita mengamalkan apa yang telah kita ketahui maka Allah akan menambah ilmu kita. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah perkataan hikmah,

من عمل بما علم اورثه الله علم ما لم يعلم

“Barangsiapa mengamalkan apa-apa yang ia ketahui maka Allah menganugerahinya ilmu yang ia belum ketahui.”

Dan hal ini juga dikuatkan dengan FirmanNya

, وَاتَّقُواْ اللّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّهُ وَاللّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم

“Dan bertakwalah kepada Allah. Allah mengajarmu dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah:282)

Allah memuji para ulama yang mengamalkan ilmunya dan mengangkat derajat mereka. Allah ta’ala berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

“Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar : 9)

Dan juga firmanNya,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah:11)

Allah menjelaskan kedudukan orang-orang yang berilmu yang diiringi dengan iman lalu mengabarkan bahwa Dia Maha mengetahui dan menyaksikan setiap yang kita kerjakan, hal ini memberi petunjuk kepada kita bahwa ilmu harus diiringi dengan amal.

Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rosulullah serta keluarga dan sahabatnya.