Cari Blog Ini

Sabtu, 10 Agustus 2013

Tips Bermuhasabah (Introspeksi diri)

bismillahirrahmanirrahim
Tahun baru adalah saat-saat yang tepat bagi kita untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Gunakanlah pergantian tahun sebagai momen yang tepat untuk melakukan perubahan diri. Beberapa tips untuk melakukan muhasabah yang baik adalah sebagai berikut:
  1. Carilah tempat yang tanpa gangguan untuk muhasabah, misalnya di kamar yang sepi, atau di masjid, atau di tempat yang kita agak asing di situ.
  2. Bawa alat tulis dan buku khusus muhasabah. Ini penting, agar kelak, beberapa bulan ke depan atau beberapa tahun ke depan jika suatu saat kita ingin mengukur sejauh mana perubahan telah terjadi dalam diri kita, kita dapat melihatnya dari buku itu.
  3. Berdo’a kepada Allah SWT dan mohonkan ampunan-Nya, kemudian mohonlah agar dapat memuhasabah diri sebagai ikhtiar memperbaiki diri.
  4. Renungkan berbagai kekurangan kita dalam beribadah kepada Allah SWT, baik dalam muamalah kepada sesama ataupun berbagai aspek lain dalam hidup kita. Gunakan pertimbangan ukhrowi saat merenungkan, maksudnya renungkanlah akibat perbuatan kita dari sisi Allah, bukan hanya dari sisi duniawi saja. Catatlah renungan di buku kita itu. Jangan malu menuliskan kekurangan kita. Format bebas sesuai kesukaan masing-masing. Sebagai contoh, bisa dibagi kertas itu dalam 2 bagian. Bagian yang lebar untuk menuliskan hasil muhasabah kita. bagian yang kecil nanti untuk menuliskan solusinya.
  5. Setelah merasa cukup menuliskan semua hal yang kita rasa perlu diperbaiki dalam diri kita, barulah tuliskan solusi-solusinya di kertas bagian kanan di buku khusus kita itu. Buatlah solusi yang riil (terjangkau) yang dapat kita lakukan dalam waktu dekat. Bisa harian atau mingguan. Setiap kita pastilah memiliki solusi-solusi yang berbeda bergantung dengan cara pandang,  pola pikir, dan wawasan kita.
  6. Setelah usai membuat solusi, bacalah ulang semua yang telah kita tulis tadi. Azzamkan/ teguhkan dalam diri kita bahwa kita akan menjalankan solusi-solusi riil itu.
  7. Perbanyaklah ibadah dan ketaatan pada Allah SWT dengan terus berdo’a agar memperbaiki diri kita dan meneguhkan semua ikhtiar kita dalam menuju ridho-Nya. Mintalah bantuannya ketika kita butuh bantuan diikuti dengan ikhtiar sebagai salah satu syarat terkabulnya do’a kita itu. Ikutilah setiap kesalahan atau perbuatan buruk yang kita perbuat dengan perbuatan baik. Lakukan terus menerus perbuatan baik yang dicintai Allah SWT sebanyak-banyaknya.
  8. Evaluasilah hasil kita dalam jangka waktu tertentu. bisa per 3 hari, lalu per minggu, dan per bulan. Lakukan dengan konsisten dengan terus meningkatkan kapasitas “solusi” yang kita buat. Terus perbaiki yang kurang dalam diri, dengan terus memohon kepada Allah SWT.
  9. Jika gagal, bangkit lagi, gagal, bangkit lagi, dan terus bangkit. jangan sampai kita menyerah karena menyerah berarti lari dari rahmat Allah SWT.
Semoga dengan muhasabah yang baik kita akan menjadi hamba-Nya yang makin mendekat kepada-Nya, mendekat pada syafaat Rasulullah SAW dan pada akhirnya, mendekat pada surga-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Amin.
Wallahu’alam bisshawab.
alhamdulillahirabbilalaminReferensi:
  1. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr :18)
  2. Dari Syadad bin Aus r.a, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau berkata, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT”. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)
  3. http://eekkoo.wordpress.com/2009/11/01/tips-muhasabah-yang-terparameter/

Menjemput Kematian dengan Husnul Khatimah (I)


Jika kita berbicara tentang husnul khatimah, berarti kita sedang berbicara tentang kehidupan. Dan salah satu syarat kita dapat mencapai husnul khatimah adalah dengan memahami apa sesungguhnya hakikat kehidupan ini.
kematian Menjemput Kematian dengan Husnul Khatimah (I)
Dalam memahami kehidupan, manusia terbagi menjadi dua golongan. Golongan yang pertama adalah orang yang memahami bahwa hidup ini sesungguhnya adalah rihlah ruhaniah menuju Allah Rabb semesta alam. Golongan ini memahami bahwa diujung perjalanan ini Allah telah menyiapkan seindah-indah tempat kembali. Sebagaimana seorang yang berpenghasilan 60 juta rupiah sebulan, ketika dia ditawari suatu pekerjaan dengan penghasilan 40 juta rupiah, tentu dia tidak akan tertarik. Begitu pula orang-orang yang termasuk golongan ini, mereka tidak akan mudah terpesona dengan kehidupan duniawi karena dia meyakini bahwa kenikmatan yang menantinya di surga nanti jauh lebih baik daripada apa yang dia temukan di dunia ini.
Golongan yang kedua adalah orang-orang yang memahami kehidupan ini sebagai satu-satunya kesempatan untuk bersenang-senang. Mereka memahami bahwa setelah kehidupan ini tidak ada kehidupan lain dan mereka tidak akan mempertanggung-jawabkan segala perbuatan yang telah mereka lakukan. Dan pemahaman seperti ini tercermin dari segala tindakan serta pilihan mereka dalam menjalani kehidupan sebagaimana Ralulullah bersabda:
“Seluruh umatku akan masuk jannah, kecuali yang enggan.” Maka dikatakan: “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang menaatiku maka dia pasti masuk jannah, sedangkan barangsiapa yang mendurhakaiku maka sungguh dia telah enggan (masuk jannah).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari)
Kedua jenis manusia ini adalah pilihan kita. Kita bebas memilih golongan manusia yang mana yang ingin kita ikuti. Dan pilihan ini bukan diberikan kepada kita kelak saat kita sedang mengalami sakaratul maut melainkan saat ini juga. Maka hendaklah kita merenungkan firman Allah dalam kitabnya yang mulia:
Maka ke manakah kamu akan pergi? (At-Takwir: 26)
Pertanyaan ini adalah pertanyaan dari Allah kepada kita hamba-Nya dan jawaban atas pertanyaan ini adalah sebuah langkah awal dari perjalanan menjemput kematian dengan husnul khatimah. Dan tidak ada jawaban yang paling tepat bagi pertanyaan ini kecuali dengan firman Allah:
“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’aam: 162)
Jika seseorang telah sungguh-sungguh untuk selalu menghadapkan wajahnya (tawajjuh) kepada Allah, maka dia telah merancang kehidupannya dengan akhir yang baik. Dan orang-orang seperti ini tidak akan pernah memiliki rasa kecewa. Dia tidak akan memedulikan segala peristiwa yang menimpa dirinya tetapi yang dia pedulikan adalah bagaimana dia menyikapi peristiwa tersebut. Karena dia memahami bahwa kewajibannya hanyalah berusaha untuk mendapatkan yang terbaik dan segala hasil dari usahanya dia serahkan kepada Allah semata. Dia memahami bahwa hasil yang diberikan Allah hanyalah sebuah sarana untuk dapat meraih ridho-
Nya.
Lantas, bagaimana agar kita dapat selalu tawajjuh kepada-Nya? Ustadz Syatori Abdur Rauf menyebutkan dalam suatu ceramahnya bahwa salah satu cara untuk dapat selalu tawajjuh kepada Allah adalah dengan mentafakkuri datangnya maut (dzikrul maut). Begitu banyak hal-hal yang dapat kita tafakkuri dari datangnya maut ini, yaitu:
1. Merenungkan kematian yang datang secara tiba-tiba
Sebagai seorang mukmin, hendaknya kita merasa khawatir dengan kedatangan maut yang secara tiba-tiba. Bisa jadi seseorang yang masih muda dan sehat dicabut nyawanya lebih dulu dari orang-orang yang sakit-sakitan dan lebih tua darinya. Dan bisa jadi seseorang
dicabut nyawanya ketika sedang dalam keadaan lupa dan lalai. Betapa banyak orang yang meninggal dalam keadaaan sedang melakukan maksiat ataupun melakukan sesuatu yang sia- sia. Maka seyogianya dengan mentafakkuri kematian yang datangnya tiba-tiba ini membuat kita terhindar dari keadaan lupa dan lalai dari segala perintah dan larangan-Nya.
2. Merenungkan pedihnya sakaratul maut
Sebagaimana Rasulullah pernah bersabda bahwa pedihnya sakaratul maut adalah seperti kambing yang dikuliti hidup-hidup. begitu perihnya hingga Rasulullah tidak tega mengatakan “seperti manusia dikuliti hidup-hidup” dan menggunakan kambing sebagai
perumpamaan pedihnya sakaratul maut tersebut. Dalam hadits yang lain beliau menyebutkan bahwa pedihnya sakaratul maut seperti seseorang yang seluruh tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung rambut dililit kawat berduri yang durinya menancap kedalam daging. Kemudian kawat tersebut di tarik ujungnya secara perlahan-lahan. Sungguh kepedihan yang sangat luar biasa. Oleh karena itu sudah seharusnya kita mempersiapkan diri kita dan memohon untuk dimudahkan dalam menghadapinya
3. Merenungkan gelapnya alam kubur
Seandainya malam ini Perusahaan Listrik Negara mengumumkan besok pagi listrik akan dipadamkan selama tiga hari penuh karena ada perbaikan, itu sudah cukup membuat kita panik. Waktu terbatas untuk persiapan, lilin jadi rebutan, ember dan bak airpun dipenuhi.
Lalu pernahkah kita berpikir tentang gelapnya alam kubur?
4. Merenungkan dahsyatnya prahara hari pembalasan
Kedahsyatan peristiwa-peristiwa pada hari kiamat betul-betul tiada terkira. Dari bangun dari kubur, dikumpulkan di padang mahsyar, semuanya adalah peristiwa yang sangat luar biasa. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa di padang mahsyar kelak matahari akan didekatkan hingga 1,6 kilometer diatas kepala. Kita bisa bayangkan matahari yang jaraknya saat ini 150 juta kilometer yang sudah mampu membuat kita kepanasan, didekatkan oleh Allah hingga 1,6 kilometer di atas kepala. Orang-orang yang tidak menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya ketika dia hidup di dunia boleh jadi dia akan merasakan dahsyatnya langit padang mahsyar. Belum lagi setelah urusan di padang mahsyar ini selesai, kita semua akan di giring ke pinggir sebuah jurang. Dalamnya jurang ini menurut sabda Rasulullah adalah seperti kita menjatuhkan sebuah batu, dan batu ini baru sampai ke dasarnya setelah 70 tahun perjalanan. Dan isi dari jurang ini adalah api yang bergemuruh yang panasnya sudah bisa dirasakan dalam jarak 500 tahun perjalanan. Dalam hadits yang panjang tentang mimpi dan syafa’at, Rasulullah bersabda,
Dan diletakkan As-Shiroth (jembatan) di atas neraka jahannam, maka aku dan umatku lah yang akan menyebranginya. Tidak ada orang yang berani bekata kecuali para nabi. Dan doa para nabi adalah Alahumma sallim-sallim (ya Allah, selamatkan, selamatkan), (HR. Bukhori dan Kutubus Sittah)
Demikianlah sedikit uraian penulis tentang langkah awal yang harus kita ambil untuk dapat menggapai husnul khatimah. Insya Allaah pada artikel berikutnya, penulis akan memaparkan amalan-amalan yang menakjubkan yang dapat menjadi bekal kita untuk menggapai husnul khatimah tersebut.
Wallaahu a’lam bis shawwab
Sumber: ceramah ustadz Syatori Abdur Ro’uf

Menjemput Kematian dengan Husnul Khatimah (II-habis)

Pada artikel sebelumnya penulis telah membahas tentang langkah awal untuk dapat menjemput kematian dengan husnul khatimah. Sedangkan, pada artikel yang merupakan lanjutannya ini, sebagaimana telah penulis janjikan sebelunya, akan dipaparkan tentang amalan-amalan menakjubkan sebagai bekal kita untuk mendapatkan kematian husnul khatimah.
Menurut Ustadz Syatori Abdur Ro’uf, ayat kauniyah Allah yang paling menakjubkan adalah selamatnya seorang manusia dari azab neraka. Dan tidaklah seorang manusia dapat selamat melainkan dengan rahmat Allah. Sedangkan rahmat Allah yang berupa keselamatan dari siksa neraka) ini hanya diberikan kepada yang berhak menerimanya.
Siapakah mereka?
Mereka adalah orang-orang yang memiliki prinsip bahwa karena keselamatan seseorang dari azab  neraka itu adalah sesuatu yang sangat ajaib, maka keselamatan itu hanya diberikan-Nya kepada orang-orang yang memiliki amalan yang sangat menakjubkan.
Amalan yang menakjubkan ini bukan berarti sebuah amalan yang di luar kemampuan kita bahkan, bisa jadi ini adalah amalan yang sangat ringan dan dapat kita lakukan dalam waktu yang sangat singkat. Ada tiga kriteria bagi sebuah amalan untuk dapat dikatakan sebagai amal yang menakjubkan:
1. Amal kebaikan tersebut kita lakukan di saat kita sedang ingin melakukan hal yang sebaliknya.
Maksudnya adalah kebaikan yang kita lakukan di saat kita sedang tidak ingin melakukan kebaikan itu bahkan, yang kita inginkan saat itu adalah melakukan keburukan. Ketika kemudian kita memilih untuk melakukan kebaikan, maka kebaikan seperti ini layak untuk disebut sebagai kebaikan yang menakjubkan.
Banyak contoh dari hal ini diantaranya adalah kita mendahulukan orang lain ketika kita
dalam keadaan butuh. Sudah banyak kisah yang menceritakan besarnya ganjaran bagi orang
yang mendahulukan kebutuhan saudaranya di saat dia juga membutuhkan hal tersebut. Allah
berfirman:
“…dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri,
Sekalipun mereka dalam kesusahan…” (Al Hasyr: 9)
Contoh yang kedua adalah kita berinfak dalam keadaan sulit. Keadaan sulit ini adalah sebuah anugerah. Karena ketika kita menghendaki kita bisa menjadikan keaadaan sulit ini menjadi sebuah saham yang sangat besar untuk mendapatkan husnul khatimah. Ini termasuk amalan yang sangat menakjubkan.
Begitu juga ketika kita menginfakkan sesuatu yang paling kita senangi. Misal, kita memiliki dua buah handphone yang salah satu kita sukai dan yang lain tidak. Kita hanya membutuhkan satu handphone saja. Kemudian kita berikan handphone kita yang kita sukai
tersebut. Dan tidak hanya sampai di situ, tetapi kita memilih untuk memberikan handphone yang kita sukai tersebut kepada orang yang tidak kita sukai. Ketika kita dapat melakukan hal ini, maka itu berarti kita telah melakukan suatu amal yang menakjubkan. Dan sebenarnya, hal yang kita berikan ini tidak harus berupa barang. Kita memberikan senyum atau sekedar mendoakan kebaikan kepada orang yang kita tidak sukai pun sudah termasuk sebuah amal yang luar biasa.
2. Menikmati segala amal baik yang kita lakukan.
Ada sebuah kaidah dalam hal kematian yaitu kita akan diwafatkan dalam keadaan sedang melakukan amal yang kita sukai. kita perlu belajar dari Abdullah ibnu Mubarak yang berkata “Tidak ada suatu keadaan yang lebih aku sukai melainkan dinginnya malam di saat
shalat tahajud dan panasnya siang di saat berpuasa.” Orang yang menyukai sholat berjamaah akan di wafatkan dalam keadaan sedang shalat berjamaah, dan orang yang menyukai bermain game insya Allah akan diwafatkan dalam keadaan sedang bermain game. Wal ‘iyadzu billah.
3. Meninggalkan maksiat yang sangat kita sukai.
Ketika kita mendapati suatu kesempatan melakukan sebuah kemaksiatan yang sangat kita sukai dan kita memiliki kemampuan untuk melakukannya akan tetapi kita tinggalkan dan kita berjanji untuk tidak melakukan keburukan tersebut selama-lamanya, maka tindakan kita meninggalkan maksiat ini termasuk amalan yang sangat menakjubkan. Misalkan kita menyukai untuk bermaksiat dengan lawan jenis, tapi ketika kita memiliki kesempatan dan kemampuan untuk melakukannya kita memilih untuk meninggalkan maksiat tersebut dan berjanji untuk menutup mata, telinga, dan hati kita dari segala maksiat terhadap lain jenis maka ganjaran dari amalan ini sungguh sangat luar biasa.
Dan meninggalkan keburukan ini tidak harus sampai pada tataran dosa sebesar zina, akan tetapi ada maksiat yang lebih kecil yang kita sukai yang dapat kita tinggalkan yaitu melakukan sesuatu yang sia-sia. Misalkan kita suka menonton pertandingan bola tetapi kita memilih untuk tidak menontonnya karena ingin meninggalkan hal yang sia-sia maka insya Allah ganjaran dari hal ini sangat besar disisi Allah. Bahkan sebenarnya meninggalkan menonton pertandingan bola ini jauh lebih mudah daripada menontonnya.
Demikianlah paparan penulis tentang amalan-amalan yang menakjubkan yang sebenarnya tidak terlalu berat untuk kita lakukan. Mudah-mudahan Allah berikan kita kekuatan dan kemauan untuk melakukan amalan-amalan yang ringan ini dan mudah-mudahan Dia berkenan menjadikan akhir hidup kita husnul khatimah. Aamiin.
Wallahu A’lam bis Shawwab.
Sumber: ceramah Ustadz Syatori Abdur Ro’uf.